Laman

Selasa, 26 September 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Oleh Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.

CGP Angkatan 8 Kota Banjar

UPTD SMP Negeri 6 Banjar

Sebagai seorang pendidik, kita berada pada garis terluar dan terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan. Dalam sebuah sistem pendidikan, sebagai guru kita adalah eksekutor terakhir dalam mengaplikasikan apapun kebijakan pendidikan. Karena itu, guru memiliki peran istimewa untuk mewujudkan pendidikan seperti yang diharapkan. Ditangan para eksekutor inilah, para murid belajar dan meniru segala hal dari guru. Kita dituntut untuk bisa memberi teladan pada murid agar mereka bisa meniru nilai-nilai kebajikan yang kita wariskan. Maka, hakikat pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia ujung tombak implementasinya berada di tangan para guru.

Karena itu, sebagai calon guru penggerak yang memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan perilaku sebagai guru yang patut digugu dan ditiru saya mencoba membuat koneksi antar materi pada modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin berdasarkan beberapa pertanyaan pemandu sebagai berikut:

1. Bagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan tiga semboyannya yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tutu wuri handayani memiliki kaitan sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai pemimpin. Ing ngarso sung tulodo yang berarti dari depan, seorang pemimpin harus mampu memberi teladan kepada yang dipimpinnya. Ing madyo mangun karso maknanya dari tengah, seorang pemimpin itu harus memberikan motivasi, dan dukungan semangat kepada yang dipimpinnya. Sementara Tut wuri handayani memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus mampu mendorong dari belakang agar yang dipimpinnya mampu bergerak menuju hal yang lebih baik.

Semboyan ini memiliki makna filosofis terkait dengan pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin yaitu keputusan apapun yang dipilih oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mengedepankan keberpihakan pada murid. Dengan demikian, segala keputusan itu harus mampu dipertanggungjawabkan karena tugas guru bukan semata memberi contoh dari depan, namun juga membersamai murid dari sampingnya serta mendorong mereka dari belakang..

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap orang bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Pada murid, nilai-nilai kebajikan tersebut akan terbentuk melalui budaya positif yang tercipta dilingkungannya. Karena itu, sangat penting bagi guru untuk menerapkan budaya positif kepada murid sebagai upaya untuk menguatkan nilai kebajikan serta keyakinan kelas sebagai aturan yang disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam sebuah kelas. Semua nilai kebajikan ini akan sangat mempengaruhi seseorang ketika mengambil sebuah keputusan. Ketika dalam sebuah pengambilan keputusan terdapat nilai kebajikan yang saling bertentangan maka saat itulah muncul dilema etika. Dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan, baik berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis pada rasa peduli, seorang pemimpin akan mampu mengambil keputusan terbaik melalui beragam pertimbangan dengan memanfaatkan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Sebuah pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam menggali masalah serta fakta sebenarnya. Dan salah satu cara melakukan hal tersebut adalah melalui coaching. Dengan kemampuan coaching yang baik, seorang pendidik akan mampu melihat berbagai opsi yang tersedia dari pilihan pengambilan keputusan yang memungkinkan. Bahkan pada saat hanya tersedia dua opsi sekalipun, seorang pendidik yang kemampuan coaching yang baik akan tetap mencari opsi trilema untuk mencari cara terbaik dari opsi pengambilan keputusan yang seringkali menjadi kejutan. Dengan cara-cara seperti itu, keputusan yang dihasilkan dari sebuah proses pengambilan keputusan yang matang akan menghasilkan keputusan yang mudah dipertanggung jawabkan.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kompetensi sosial emosional seorang guru akan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Hal itu terjadi karena guru yang memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan mampu mengambil keputusan terbaik meskipun menghadapi dilema etika. Kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi akan membuat guru mengambil keputusan dengan tetap mempertimbangkan ketiga prinsip pengambilan keputusan baik berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis pada rasa peduli. Dengan demikian, keputusan yang diambil oleh guru yang memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan tetap menghasilkan keputusan terbaik meskipun pilihan yang tersedia menyajikan dua nilai kebajikan yang saling bertentangan sebagai dilema etika.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin menguatkan nilai kebajikan yang dianut dan tertanam dalam diri seorang pendidik. Nilai-nilai tersebut akan menjadi rujukan masalah moral atau etika seorang pendidik. Semakin sering dan terasah nilai tersebut, maka semakin mudah baginya untuk menggunakan nilai tersebut. Karena itu keberpihakan pada murid harus menjadi poin penting dalam penyelesaian berbagai kasus yang dihadapi oleh pendidik.

Disisi lain, jika nilai moral atau etika pendidik yang dipilih dalam pengambilan keputusan adalah yang bernilai negatif maka pengambilan keputusan akan menyajikan pilihan benar dan salah sehingga hal tersebut merupakan bujukan moral dan bukan merupakan dilema etika yang justru menyajikan pilihan yang semuanya benar.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Sebuah pengambilan keputusan yang menghasilkan keputusan yang tepat sasaran tentu saja tidak akan bisa diperoleh jika proses pengambilan keputusan dilakukan secara asal-asalan. Karena itu, dibutuhkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dimulai dari mengenali nilai yang saling bertentangan, mengenali siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta yang relevan, melakukan uji terhadap arah pengambilan keputusan, mempertimbangkan paradigma pengambilan keputusan, menelaah 3 prinsip pengambilan keputusan, mempertimbangkan opsi trilema, membuat keputusan dan kemudian merefleksikannya..

Jika 9 langkah pengambilan keputusan tersebut dilakukan dengan baik hasil dari keputusan yang diambil tentu saja berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?

Di lingkungan saya tantangan yang mungkin muncul dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah terutama berkaitan dengan implementasi dari 9 tahap pengambilan dan pengujian keputusan. Tahap itu memang secara langkah mudah diingat dan tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan namun jika tanpa fungsi kontrol yang kuat tak sedikit para pengambil keputusan malas melakukan refleksi dari keputusan yang telah dibuat. Karena itulah kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak sehingga implementasi 9 tahap pengambilan keputusan dapat terlaksana dengan baik.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita?

Menurut saya terdapat pengaruh dari keputusan yang kita ambil terhadap pengajaran memerdekakan murid. Bila keputusan yang kita buat telah berpihak pada murid, maka tentu hal tersebut akan memerdekakan murid kita. Sebaliknya, bila keputusan yang kita ambil tidak berpihak pada murid, maka hal tersebut tidak akan memerdekakan murid kita. Atas dasar hal tersebut, semua keputusan yang kita ambil semenstinya benar-benar memiliki keberpihakan kepada murid kita, dengan begitu hal tersebut akan sesuai dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan tentu akan menghasilkan dampak tertentu sebagai imbas dari pengambilan keputusan yang telah dilakukannya. Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil maka hal tersebut bisa mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya .Jika Keputusan yang diambil berpihak kepada murid dan dilakukan secara tepat maka kehidupan dan masa depan murid akan terpengaruh secara baik. Demikian sebaliknya, jika keputusan yang diambil tidak memiliki keberpihakan kepada murid apalagi jika dilakukan secara asal-asalan maka hal tersebut akan berpengaruh negative terhadap masa depan murid-muridnya. Karena itu, keputusan yang diambil harus dipertimbangkan secara matang sehingga dengan keputusan yang baik serta matang akan memberi pengaruh positif terhadap masa depan murid.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Keputusan yang diambil harus berpedoman nilai-nilai filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan begitu keputusan yang diambil akan tetap memiliki keberpihakan kepada murid. Selain itu, ketika keputusan diambil memiliki keberpihakan terhadap murid hal tersebut berarti sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.

Selain itu, pengambilan keputusan juga harus didasarkan pada budaya positif yang mendorong munculnya nilai kebajikan sehingga dapat menghasilkan keputusan yang berpihak pada kebutuhan murid.

Dalam pengambilan keputusan yang baik keterampilan coaching akan sangat diperlukan bagi seorang pemimpin sehingga keputusan yang diambilnya akan sesuai dengan visi misi yang menjadi panduan setiap langkah yang diambilnya.

Tak kalah pentingnya dalam pengambilan keputusan yang baik adalah kompetensi social emosional yang akan membuat seorang pemimpin mampu mengelola situasi dengan baik sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan.

Terakhir, karena keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan maka pemimpin harus memiliki kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan berelasi karena apapun yang diambil dalam keputusannya akan berdampak terhadap orang lain. Pengambilan keputusan ini juga harus dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness) serta menyadari berbagai pilihan dan konsekuensi yang harus dihadapi. Dengan begitu, diharapkan keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Menurut saya berdasarkan materi yang telah dipelajari dalam modul ini dilemma etika adalah opsi yang tersedia dalam pengambilan keputusan dimana seorang pemimpin harus memilih keputusan dengan opsi yang tersedia adalah benar semuanya. Namun jika pilihan yang tersedia adalah benar vs salah maka hal tersebut tidak disebut dilemma etika, namun bujukan moral.

Dalam pengambilan keputusan terdapat 4 paradigma yang bisa menjadi bahan pertimbangan yaitu individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetiaan lawan kebenaran, jangka pendek lawan jangka panjang. Ke 4 paradigma ini biasanya muncul sebagai pilihan dimana opsi pilihan yang tersedia adalah benar semuanya atau termasuk dilemma etika.

Sementara 3 prinsip pengambilan keputusan adalah berpikir berbasis hasil akhir, berbasis rasa peduli, dan berbasis peraturan. Kesemua prinsip pengambilan keputusan itu bisa dipilih dan di sesuaikan penggunaanya tergantung situasi dan kebutuhan di lapangan.

Untuk 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, Siapa saja yang terlibat dalam situasi ini, Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasinya, Pengujian benar atau salah melalui uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan/idola, Pengujian paradigma benar lawan benar, paradigma individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetian lawan kebenaran, dan jangka pendek lawan jangka Panjang, Melakukan prinsip resolusi berpikir berdasarkan hasil akhir, berpikir berdasarkan rasa peduli, dan berpikir berdasarkan peraturan, Investigasi opsi trilema, Buat keputusan, dan Merefleksikan keputusan yang telah dibuat.

Hal yang diluar dugaan adalah bahwa ternyata seringkali keputusan itu menyajikan pilihan benar vs benar. Kondisi tersebut mendorong kita sebagai pemimpin yang berpihak kepada murid memahami 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang dipelajari di modul ini?

Jika melihat pengalaman saya pribadi ketika berkecimpung di dunia pendidikan selama ini, tentu saja saya pernah mengalami situasi pengambilan keptusan dengan moral dilemma yang menjadi masalahnya. Secara umum pengambilan keputusan yang saya lakukan tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang ada dalam modul ini. Namun begitu saya tidak menyadari bahwa mestinya ada langkah-langkah tertentu dalam pengambilan keputusan seperti 9 pengambilan keputusan sehingga keputusan bisa ditinjau berulangkali kelebihan dan kekurangannya dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini tentu saja saya mengalami perubahan dalam mengambil keputusan. Selain memahami teori dengan lebih rinci dalam pengambilan keputusan, saya juga memahami cara-cara praktis yang bermanfaat untuk melakukan pengambilan keputusan yang tepat sehingga ketika mengalami dilemma etika saya tidak terlalu kebingungan. Begitu pula saya memahami serta mampu menguji mana yang termasuk dilemma etika serta mana yang termasuk bujukan moral.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?

Tentu saja topik ini sangat penting bagi saya dalam mengimplementasikan pengambilan keputusan yang baik. Sebagai individu saya merasa berkepentingan untuk memiliki kompetensi dalam pengambilan keputusan yang baik serta memilih keputusan terbaik untuk kepentingan saya sendiri. Sebagai pemimpin apalagi saya sangat membutuhkan topik modul ini karena seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dengan tetap memiliki keberpihakan kepada murid. Dengan penguasan kemampuan mengambil keputusan, kualitas seorang pemimpin akan menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 

Senin, 04 September 2023

KONEKSI ANTAR MATERI-MODUL 2.3. COACHING


 Oleh Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.
CGP Angkatan 8 Kota Banjar
UPTD SMP Negeri 6 Banjar Provinsi Jawa Barat

A. Pemikiran Reflektif Terkait Pengalaman Belajar

Coaching merupakan salah satu materi dalam program CGP di modul 2.3. Materi ini melatih CGP untuk melakukan proses kolaborasi dengan tujuan mencari solusi antara coach dan coachee sebagai proses pengembangan diri dalam meningkatkan performa kerja, pembelajaran diri, pertumbuhan diri dan kemampuan profesional guru dalam menghadapi beragam tantangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Hal itu terlihat dari proses pencarian solusi dalam percakapan coaching antara coach dan coachee yang dialami oleh penulis dalam praktik coaching di modul 2.3. Solusi dari permasalahan yang disampaikan coachee pada dasarnya ditemukannya sendiri melalui percakapan coaching antara coach dan coachee. Dengan percakapan yang kolaboratif yang menekankan pada kemitraan, coach mampu mendorong dan memotivasi coachee untuk membuka sudut pandangnya sendiri dengan menemukan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dihadapi coachee sehingga menemukan formula yang memungkinkan untuk mendapatkan solusi dari permasalahan coachee.

Saat mempraktikkan proses coaching itu banyak perasaan terlibat yang dirasakan oleh penulis. Hal pertama yang paling terasa ketika menjadi coachee adalah perasaan lega setelah mampu mengemukakan masalah yang dihadapi. Apalagi proses itu terjadi dengan menekankan kemitraan, sehingga coachee tidak merasa dihakimi dan disalahkan. Hal ini membuat coachee lebih nyaman untuk terbuka dan mengemukakan masalahnya sekaligus mencoba membuka diri terhadap peluang yang dilihatnya dengan bantuan coach. Selain itu, coaching yang dilaksanakan juga membuka sudut pandang CGP terhadap proses coaching yang ideal seperti yang seharusnya. Dengan demikian pengalaman itu bisa menjadi bekal dikemudian hari saat CGP harus mempraktikkan coaching secara nyata di tempat kerjanya.

Pengalaman itu akhirnya membuat CGP menemukan hal yang sudah baik terkait dengan keterlibatan dalam proses belajar. Dari proses itu, saya merasa bahwa secara umum ketika mempraktikkan proses coaching sebagai coach, saya sudah melakukan percakapan dengan alur TIRTA. Semua tahapan itu muncul dalam percakapan, mulai dari menggali tujuan, identifikasi, refleksi dan tanggung jawab. Selain itu, saya juga sudah melakukan percakapan coaching secara baik. Hal tersebut nampak dari presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan.

Meskipun begitu, sebagai guru yang belum memiliki jam terbang yang tinggi dalam proses coaching terutama sebagai coach dan supervisor, saya merasa bahwa saya masih perlu memperbaiki pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan dalam percakapan sesuai alur TIRTA. Selama proses belajar, saya mengajukan pertanyaan dengan melihat draft pertanyaan yang saya susun berdasarkan alur TIRTA, hal itu menurut saya membuat percakapan kurang berkembang sesuai dengan kondisi. Sebagai coach saya terlalu terpaku pada daftar pertanyaan yang harus diajukan, sehingga penggalian informasi yang harus diperoleh dari coachee belum maksimal. Selain itu, saya juga harus memperbaiki berbagai pertanyaan yang saya ajukan sehingga memenuhi kriteria pertanyaan berbobot yang mampu menggali secara terbuka terhadap informasi yang dibutuhkan dari cochee. Untuk sampai pada tahap tersebut memang tidak mudah. Perlu waktu dan jam terbang yang tinggi sehingga saya bisa melakukan percakapan coaching secara natural tanpa harus mengacu pada pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Namun dengan pertanyaan dadakan yang alami muncul sesuai dengan informasi dari coachee dengan tetap mengacu kepada alur TIRTA.

Pengalaman mempraktikkan proses coaching dengan alur TIRTA tersebut akhirnya mendorong saya meningkatkan kompetensi dan kematangan pribadi. Hal itu saya dapatkan dari proses coaching baik ketika berperan sebagai supervisor, coach maupun coachee. Pengalaman itu benar-benar berbekas karena saya akhirnya menyadari bahwa kemitraan dalam proses coaching adalah sebuah kekuatan yang mampu mendorong coachee menggali potensinya sendiri dengan tetap terbuka terhadap beragam peluang yang ada di sekelilingnya. Ketika berperan menjadi supervisor tetap mengobservasi secara profesional sesuai dengan rujukan tanpa harus menyalahkan. Demikian pula ketika berperan sebagai coach lebih menekankan terhadap kemitraan dengan coachee sehingga proses coaching bisa dilaksanakan secara nyaman dan mampu menggali informasi dari coachee seaktual mungkin. Demikian pula ketika berperan sebagai coachee, kekuatan kemitraan mendorong saya untuk berani mengungkapkan pendapat tanpa merasa dihakimi oleh coach sebab proses itu lebih terasa seperti curhat dan berbagi sehingga bisa menemukan solusi dengan percakapan yang dibangun bersama coach.

B. Analisis Untuk Implementasi Dalam Konteks CGP

Proses coaching yang dilaksanakan dengan sistem among sesuai tuntunan Ki Hadjar Dewantara mengajak guru untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam mencari solusi dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Proses ini akan terlaksana secara efektif jika kolaborasi yang dibangun antara coach dan coachee menggunakan komunikasi efektif yang berbasis kemitraan. Untuk itulah, diperlukan kemampuan coach yang penting dalam percakapan coaching. Kemampuan tersebut antara lain, presence (hadir sepenuh hati), mendengarkan aktif, serta mengajukan pertanyaan yang berbobot. Lantas bagaimana jika dalam proses coaching, coachee tidak terbuka dan menutup diri terhadap coach? Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengaplikasikan proses coaching. Meski sesungguhnya hal tersebut bisa diminimalisasi dengan memaksimalkan kompetensi coaching mulai dari presence, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan yang berbobot. Ketiga kompetensi itu, jika diterapkan secara maksimal akan mampu mendorong coachee untuk merespon dengan baik. Coachee yang kurang terbuka sekalipun jika diberikan pertanyaan berbobot yang memancing jawaban terbuka akan terangsang untuk merespon sesuai kondisi dan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian kemampuan coach yang baik akan sangat membantu dalam melaksanakan coaching agar mencapai tujuan sesuai harapan.

Sebenarnya percakapan coaching terdiri dari beberapa jenis antara lain percakapan untuk perencanaan, percakapan untuk pemecahan masalah, percakapan untuk berefleksi, dan percakapan untuk kalibarasi. Semua jenis percakapan coaching ini bisa digunakan dengan cara menyesuaikan sesuai kebutuhan coachee. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa tujuan coachee melakukan coaching harus digali sedemikian rupa oleh coach sehingga jenis percakapan yang dilakukan bisa menyesuaikan kebutuhan coachee. Ini menjadi esensial karena tujuan utama dari proses coaching adalah untuk menemukan solusi. Dengan begitu, proses coaching yang dilaksanakan akan menjadi secercah harapan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai sebuah profesi, baik ketika merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sebagai tugas pokoknya maupun ketika melaksanakan tugas tambahan sesuai dengan fungsinya sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah.

Tantangan yang sebenarnya ada ketika melaksanakan proses coaching di sekolah adalah belum meratanya pemahaman terhadap proses coaching kepada guru dan Kepala Sekolah secara meluas. Jangankan guru yang jarang berperan sebagai coach dalam proses coaching di tempat kerjanya, Kepala Sekolah saja yang seringkali dituntut untuk melaksanakan supervisi akademik, tidak sedikit yang belum memahami pelaksanaan coaching yang seharusnya.. Sebagian besar dari mereka menganggap supervisi yang dilakukan semata-mata untuk menilai, memperbaiki, dan mengajari guru. Dengan demikian, unsur kemitraan yang mestinya menjadi fokus utama, justru luput dalam pelaksanaannya. Para coach yang belum memahamai cara melakukan coaching dengan baik ini seringkali secara tidak sadar menghakimi menyalahkan coachee meski tak sedikit dari mereka yang ketika diminta untuk menunjukkan dan mempraktekkan dengan memberi teladan serta memberi solusi, mereka sendiri justru kebingungan sama-sama tidak mengetahui caranya.

Karena itulah, menyebarkan pemahaman terhadap proses coaching yang ideal ini menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Kegiatan seperti diseminasi materi coaching akan sangat bermanfaat untuk menyamakan persepsi sekaligus memperluas pemahaman terhadap proses coaching yang baik. Cara ini akan menjadi alternatif solusi terhadap tantangan yang muncul di sekolah. Kolaborasi antara Kepala Sekolah, Guru Penggerak, serta pengawas dalam memaksimalkan proses coaching di sekolah akan memberi warna tersendiri terhadap pencapaian dan pelaksanaan coaching yang baik dengan tetap mengedepankan unsur berbagi dan berkolaborasi dari semua elemen sekolah.

C. Keterhubungan

Pelaksanaan supervisi akademik selama ini yang belum sesuai dengan proses coaching menjadi lebih terlihat mana yang harus diperbaiki dan disempurnakan. Pembelajaran dalam modul 2.3 memberi inspirasi yang kaya terhadap perbaikan yang harus dilakukan dalam proses coaching selama ini yang sering kita laksanakan. Hal-hal yang belum sesuai itu semestinya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan agar pemahaman CGP terhadap coaching terlihat manfaatnya dan memberikan warna terhadap perubahan yang terjadi di sekolah.

Di masa yang akan datang, CGP harus berperan aktif untuk mendorong pelaksanaan coaching yang ideal sehingga manfaat coaching akan diperoleh secara maksimal. Peran itu bisa ditunaikan melalui kolaborasi baik dengan Kepala Sekolah maupun Pengawas. Memulai dari diri sendiri akan menjadi sesuatu yang sangat baik. Kemudian selanjutnya mendorong komunitas untuk bergerak melakukan hal yang bisa mendorong pemahaman terhadap coaching yang baik lebih meluas.

Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang dipelajari yaitu:

Modul 2.1 Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid, CGP bisa melaksanakan coaching untuk menentukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar, minat, dan gaya belajar mereka.

Modul 2.2 Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus mampu mengaplikasikan budaya positif dengan prakarsa perubahan yang berpihak pada murid. Salah satu caranya adalah menerapkan pembelajaran KSE. Dengan melibatkan kompetensi sosial dan emosional proses coaching akan terlaksana dengan maksimal.

Sebenarnya, selain dari program CGP ada banyak bahan belajar serta informasi terkait coaching. Hal tersebut bisa ditemukan dari buku, youtube atau media lain. Hal itu semakin memperkaya wawasan CGP mengenai program coaching. Hal yang utama dari semua itu adalah coaching adalah proses kolaborasi yang bertujuan untuk menemukan solusi dengan mengedepankan unsur kemitraaan dan saling menghormati.

Minggu, 20 Agustus 2023

MULAI DARI DIRI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK


 Tahap Mulai Dari Diri Pada Modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik, sebagai CGP saya harus menjawab beberapa pertanyaan reflektif sebagai berikut:

1.      Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

Ketika pembelajaran diobservasi oleh Kepala Sekolah seringkali saya merasa canggung dan tidak nyaman, sebab saya takut disalahkan dan dicari kesalahan. Selain itu, seringkali saya merasa tidak percaya diri ketika pembelajaran diobservasi atau di supervisi oleh Kepala Sekolah.

2. Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut.

Selama menjadi guru sebenarnya saya sudah berulangkali di observasi baik oleh Kepala sekolah, Pengawas Mata Pelajaran, maupun oleh sesama guru. Tetapi yang sering saya rasakan berdasarkan pengalaman, yang pertama saya rasakan adalah saya merasa terbebani, sebab saya merasa diawasi, takut salah dan takut disalahkan. Perasaan seperti itu mungkin normal saja sebenarnya, sebab tidak ada satu pun orang yang ingin dicari-cari kesalahannya. Meskipun berdasarkan pengalaman perasaan itu kemudian hilang saat saya berpikir nothing to lose. Yang terjadi terjadilah. Saya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Sisanya saya serahkan pada Taqdir. Berdasarkan pengalaman sebenarnya Kepala Sekolah/ Pengawas yang melakukan observasi atau supervisi tidak pernah menyalahkan atau mencari kesalahan kita. Hal itu sebenarnya hanya perasaan kita yang disupervisi saja. Pasca Kegiatan observasi biasanya Kepala Sekolah dan Guru mendiskusikan apa yang terjadi dalam proses belajar berdasarkan lembar observasi. 

3. Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?

Menurut saya pribadi proses supervisi akademik yang ideal adalah yang menunjukkan hal yang sebenarnya secara objektif. Mungkin yang lebih aman kekurangan dan kelebihan dalam proses belajar mengajar yang diobservasi itu berdasarkan pendapat guru yang diobservasi dan bukan pendapat Kepala Sekolah atau pengawas yang melakukan supervisi. Sebab kalau demikian yang muncul justru terkesan mencari-cari kesalahan sebab jika dibalik yang disupervisi itu kepala sekolah/ pengawas mungkin hasil observasinya sama sama ada kurangnya. Namun jika kekurangan dan kelebihan dari proses KBM itu dinyatakan oleh guru yang disupervisi hal itu malah menjadi refleksi dan evaluasi yang justru berdampak baik

4. Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.

Secara pribadi mungkin berada pada posisi 7. Sebab sebagai guru, di sekolah saya sering ditugaskan untuk melakukan supervisi terhadap rekan sejawat sebagai koordinator tim PKG. berdasarkan pengalaman tersebut seringkali ketika melakukan observasi atau supervisi saya meminta pendapat kepada guru yang disupervisi mengenai kelebihan dan kekurangan dari proses belajar yang telah dilaksanakannya. Dengan begitu guru yang disupervisi tidak merasa disalahkan dan dicari-cari kesalahannya.

5. Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

Menurut saya aspek yang dibutuhkan untuk mencapai situasi ideal itu adalah komunikasi yang efektif dari Coach dan coachee. semua pihak saling mempercayai dan memerankan tugas masing-masing secara lebih bertanggung jawab. Tidak ada yang memiliki posisi lebih atas dari yang lain dan lebih menekankan pada rekan berbagi sehingga kedekatan emosional akan lebih terbangun.

Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :

  1. Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?

Setelah saya mempelajari modul ini saya berharap mendapatkan pengetahuan dan praktik yang tepat dalam mempelajari cara melakukan coaching dalam supervisi akademik. Hal itu sangat bermanfaat untuk saya baik ketika menjadi guru yang diobservasi maupun ketika melakukan observasi/ supervisi kepada guru lain.

2. Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

Kegiatan yang saya harapkan adalah saya mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan proses coaching baik ketika menjadi coach maupun ketika menjadi coachee.

Materi yang saya harapkan yaitu segala materi yang berkaitan dengan proses coaching yang ideal dan tindak lanjutnya

Manfaat yang saya harapkan antara lain saya mendapatkan pengetahuan dan ruang untuk melakukan praktik coaching yang ideal sehingga ke depannya saya bisa menjadi guru yang bukan hanya memahami cara melaksanakan coaching yang ideal tetapi juga mampu mempraktikkannya dengan ideal

Sabtu, 19 Agustus 2023

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


Tugas Koneksi antar materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional ini merupakan salah satu tugas dari rangkaian tugas yang harus dipenuhi pada Program Calon Guru Penggerak Angkatan 8 Kota Banjar Provinsi Jawa Barat. Penulis mencoba membuat benang merah koneksi antar materi pada modul ini berdasarkan pertanyaan pemantik yang tersedia pada LMS Program Guru Penggerak. Pertanyaan Pemantik 
Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional? 
Terkait dengan kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional tentu saja mengalami penyempurnaan. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif saja tetapi juga memerlukan penguasaan kompetensi sosial dan emosional dalam melaksanakan peran sebagai pemimpin pembelajaran. Penguasaan KSE akan membuat guru semakin matang dalam bertindak karena memahami KSE yang harus diterapkan terutama ketika mendorong siswa menemukan kodratnya. 
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah proses pembentukan diri dengan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan anak (kesadaran diri, kontrol diri, kemampuan berelasi, dan lain-lain) untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, mengajarkan mereka menjadi orang yang baik, memberikan keseimbangan pada individu, dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. 
Pembelajaran sosial dan emosional adalah mampu mendorong baik guru maupun murid memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi masalah kehidupan sekaligus mencari solusi terbaik dari masalah tersebut. KSE tersebut antara lain kesadaran diri, manajemen diri, kemampuan berelasi, kesadaran sosial serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab 
Apa kaitan pembelajaran sosial dan emosional yang telah anda pelajari dengan modul-modul sebelumnya?
Terkait dengan modul sebelumnya pembelajaran sosial dan emosional yang saya pelajari maka saya jelaskan dibawah ini: 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.1 Filosofi Pemikiran KHD Kompetensi sosial dan emosional ini sejalan dengan Filosofi Pemikiran KHD adalah guru harus menciptakan kondisi well being, sehingga mampu menebalkan kodrat baik siswa dengan dukungan kodrat alam dan kodrat zaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid yang unik. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus menuntun anak menebalkan kodratnya agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional dan Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Pembelajaran Sosial dan emosional mendorong guru untuk mampu mengelola KSE guru maupun murid agar tercipta pembelajaran yang berpihak pada murid yang sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak. 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Dengan menggunakan pembelajaran sosial emosional guru dapat mewujudkan visi yang diharapkan dan dapat membentuk murid yang berakhlaq mulia sehingga profil pelajar pancasila akan mudah terwujud sesuai harapan 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.4 Budaya Positif 
Melalui pembelajaran sosial dan emosional guru dapat mengenali dirinya sendiri dan dapat memahami serta mengendalikan emosinya masing masing yang sedang dialaminya, sehingga mampu mengontrol diri dan menerapkan disiplin positif dengan baik sesuai dengan kesadaran dirinya yang penuh.
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 2.1 Pembelajaran Untuk memenuhi kebutuhan belajar murid (Pembelajaran Berdiferensiasi) 
Dengan mempelajari pembelajaran sosial dan emosional, guru akan memiiki kemampuan untuk mengenali emosi dan perasaan masing-masing murid sehingga guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. 
1. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional itu tidak terlalu penting untuk mendukung pembelajaran sehingga saya tidak pernah serius mempelajarinya. Setelah mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran KSE sangat nendukung terhadap tercapainya pembelajaran secara umum sehingga sangat penting bagi seorang guru untuk memahami dan menguasainya sekaligus mendorong muridnya untuk memahami dan mengaplikasikannya. 
2. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah: 5 kompetensi sosial emosional, kesadaran penuh ( mindfulness), kesejahteraan psikologis (WELL-BEING) Kesadaran Diri kemampuan untuk memahami perasaan, emosi dan nilai nilai diri sendiri serta bagaimana pengaruhnya pada prilaku diri dalam berbagai situasi dan kondisi dalam aktivitas kehidupan sehari hari. Manajemen Diri Kemampuan dalam mengelola emosi, pikiran dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai keadaan untuk mencapai tujuan dan aspirasi serta target yang diinginkan. Kesadaran Sosial Kemampuan cara pandang untuk memahami rasa empati terhadap orang lain seperti latar belakang RAS dan budaya yang beragam sehingga dapat menerima keadaan tersebut pada lingkungannya. Kesadaran Berelasi Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik, sehat dan dinamis serta suportif untuk terciptanya lingkungan yang kondusif. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab Kemampuan ini berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam pilihan pilihan yang baik dan konstruktif yang berdasarkan atas kepedulian. kapasitas dalam mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan keamanan, kenyamanan dan manfaat serta konsekuensi dari berbagai tindakan tersebut sehingga tercipta kesejahteraan secara psikologis baik untuk diri maupun orang lain. Mindfulness Kesadaran ini muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu ( tanpa menghakimi). Mindfulness bisa dijadikan dasar dalam penguatan lima kompetensi sosial dan emosional sehingga menjadi sebuah kekuatan besar dalam mempraktikan pembelajaran sosial emosional yang baik. Penerapan Mindfulness dapat dilakukan dengan cara STOP yaitu : Stop ( berhenti sejenak) Take a breath (ambil nafas dalam) Observe ( amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran dan lingkungan) Proceed (selesai dan lanjutkan ) Well-Being ( kesejahteraan psikologis) Merupakan sebuah kondisi pada seseorang yang memiliki sikap positif terhadap diri dan orang lain, dapat mengatur tingkahlaku dan keputusannya sendiri sehingga bisa memenuhi kebutuhannya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik serta memiliki tujuan hidup lebih bermakna serta berusaha bereksplorasi dalam mengembangkan dirinya sendiri maupun orang lain. Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah: bagi murid-murid: mendorong peningkatan kompetensi sosial dan emosional murid yang diimplementasikan dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan melalui pembelajaran di dalam kelas untuk menumbuhkembangkan lima kompetensi sosial dan emosional maupun dalam kegiatan di luar kelas dalam bentuk ekstrakurikuler. bagi rekan sejawat: Perubahan yang akan saya terapkan di sekolah terkait dengan rekan sejawat adalah saya berbagi pengetahuan dengan rekan sejawat sehingga dengan pemikiran dan pemahaman yang sama mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Sosial Emosional serta selalu mengedepankan kolaborasi diantara sesama rekan sejawat.

Senin, 14 Agustus 2023

Aksi Nyata Modul 1.4 Membangun Budaya Positif Di Sekolah

 Sekolah sebagai tempat guru mengabdi tak ubahnya seperti sawah bagi petani dalam bercocok tanam. Petani merawat dan membesarkan tumbuhan padi sedangkan guru merawat dan membesarkan murid di sekolah. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk menjaga, dan memaksimalkan tumbuh kembang padi dan juga murid. Upaya yang meraka lakukan adalah memaksimalkan kodrat tumbuh kembang padi serta murid agar berkembang sesuai kodratnya.

Upaya yang dilakukan oleh guru di sekolah tersebut pada dasarnya dilakukan agar guru mampu membantu tumbuh kembang muridagar sesuai dengan potensi dirinya sendiri. Selain itu, untuk mencapai tujuan tersebut guru harus mengupayakan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung terhadap tumbuh kembangnya budaya positif murid. Karena peran yang paling utama bagi seorang guru adalah membangun budaya positif di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong tumbuhnya karakter baik murid.

1. Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal

Dalam membangun budaya positif di sekolah, salah satu hal yang harus dilihat kembali adalah bentuk penerapan disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Apakah mendorong penerapan disiplin positif melalui motivasi intrinsik ataukah ekstrinsik? Nilai-nilai kebajikan apa yang dipegang oleh seluruh warga sekolah sehingga mampu menerapkan disiplin positif dalam kehidupan di sekolah.

2. Teori Motivasi, Hukuman, Penghargaan, dan Restitusi

Disiplin positif merupakan bagian utama dari terwujudnya budaya positif. Dalam mempelajarinya, murid tidak perlu menerima hukuman dari guru sebab untuk menumbuhkan motivasi internal yang lebih kuat, guru harus mendorong tumbuhnya disiplin diri murid sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu kepada kebajikan universal.

3. Keyakinan Kelas

Keyakinan perannya lebih kuat dalam menggerakkan seseorang dibandingkan dengan peraturan. Hal ini karena keyakinan lebih terdorong oleh motivasi intrinsik dibanding dengan peraturan yang mendorong motivasi ekstrinsik. Agar budaya positif itu bisa tumbuh dan berkembang, perlu diciptakan dan disepakati keyakinan atau prinsip dasar bersama diantara para warga kelas.

4. 5 Kebutuhan Dasar Manusia

Pada dasarnya apapun perilaku murid pasti memiliki tujuan. Hal ini karena umumnya perilaku murid dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan, kebutuhan akan pilihan (kebebasan) dan kebutuhan untuk merasa senang. Ketika seorang guru memahami lima kebutuhan dasar manusia maka pada gilirannya guru tersebut tidak akan semata-mata melihat perilaku murid yang muncul dipermukaan saja tetapi akan melihat hal yang lebih essensial terkait dengan kebutuhan dasarnya sebagai manusia.

5. Restitusi: Lima Posisi Kontrol Guru

Lima Posisi kontrol yang bisa diterapkan guru antara lain sebagai penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Tujuan akhir dari lima posisi kontrol guru tersebut adalah pencapaian posisi manajer, dimana pada posisi ini murid bisa menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya sehingga menciptakan lingkungan yang positif, aman dan nyaman.

6. Restitusi: Segi Tiga Restitusi

Restitusi merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid mencari solusi dari masalah mereka Restitusi bisa membantu murid memiliki tujuan disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah melalui tahapan segi tiga restitusi yaitu antara lain: menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan kelas.

Kamis, 20 Juli 2023

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif

 


Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.

CGP Angkatan 8 Kota Banjar Provinsi Jawa Barat

Pada dasarnya, sebagai calon guru penggerak saya menyadari posisi saya yang memiliki peran sentral untuk menciptakan budaya positif di sekolah. Peran itu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya sekaligus menjadi pemicu untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan sekolah melalui berbagai hal yang bisa saya lakukan. Salah satu diantaranya yaitu dengan menerapkan berbagai konsep yang telah dipelajari dalam program Guru Penggerak baik dalam modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak dan modul 1.4 tentang Budaya Positif. Keempat materi ini saling terkait dan mendukung sebab yang menjadi dasarnya adalah filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dikuatkan oleh nilai dan peran guru penggerak, dipandu dengan visi guru penggerak sehingga bisa mendorong tumbuhnya budaya positif di sekolah.

Salah satu dari  konsep Budaya Positif antara lain yaitu penerapan disiplin positif. Terkait hal itu, saya bertanggung jawab untuk melakukan perubahan melalui prakarsa perubahan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia di sekolah baik kodrat zaman maupun kodrat makan untuk menebalkan kondrat baik murid sehingga tumbuh sesuai harapan. Perubahan itu tidak akan terjadi andai saja saya tidak menerapkan nilai dan peran guru pengerak, misalnya saja saya hanya bergerak sendiri tanpa membangun relasi dan komunikasi dengan pihak lain di sekolah dalam mengupayakan tujuan tersebut. Dengan demikian, kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di sekolah sangat diperlukan, agar selain peran dan tanggung jawab saya sebagai calon guru penggerak menjadi lebih ringan, hal ini tentu saja akan mendorong kemungkinan tercapainya tujuan yang lebih potensial.

Selain itu, konsep lain seperti hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, keyakinan kelas serta restitusi juga tak jauh berbeda dengan penerapan disiplin positif. Yang menjadi dasar dari semua implementasi tersebut adalah filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan memaksimalkan nilai dan peran guru penggerak yang menjadikan visi guru penggerak sebagai panduan utama untuk mendorong budaya positif tumbuh dan berkembang di sekolah.

Untuk memaksimalkan berbagai hal yang telah saya pelajari dalam program guru penggerak terutama dalam modul 1 saya mencoba merefleksikan pengalaman belajar saya sejauh ini. Berbagai hal yang saya pelajari dalam modul 1 tentang Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif membuat wawasan saya bertambah baik secara akademik maupun secara praktis. Berbagai tugas yang saya kerjakan terkait modul 1 ini membuat pemahaman saya menjadi lebih tajam. Dalam mengerjakan tugas sering kali saya perlu untuk mendapatkan sudut pandang lain untuk menguji pendapat saya. Hal ini mendorong saya untuk berdiskusi dengan teman sejawat di sekolah. 

Dampaknya, pengalaman belajar tersebut baik dalam mempelajari materi dalam modul maupun melaksanakan diskusi dengan rekan lainnya membuat saya merasa senang sekaligus menguatkan hubungan emosional dengan kolega di sekolah. Tak jarang pula, rekan kerja baik sesama guru maupun kepala sekolah memberi semangat melihat saya nampak lelah dengan tenaga yang sudah terasa habis karena menyelesaikan tugas utama di sekolah, Hal itu menjadikan keseluruhan proses yang saya alami menjadi lebih berkesan.

Dari proses belajar yang saya alami, ada hal baik yang telah saya lakukan seperti misal berinisiatif melakukan diskusi untuk menguatkan pemahaman. Selain itu, saya juga sering mencari referensi tambahan dari buku di perpustakaan sekolah untuk menguatkan pemahaman saya. Hal seperti ini tentu harus saya pertahankan agar hasil belajar saya tidak mengecewakan. Namun demikian, saya juga tidak menutup mata terhadap banyak hal yang perlu saya perbaiki dalam keterlibatan saya pada proses belajar. Misalnya saya sering kali membaca materi dengan sekilas sebab saya merasa banyak sekali bahan bacaan baik dari modul maupun dari LMS yang harus saya selesaikan. Beruntung hal tersebut bisa ditanggulangi dengan berdiskusi bersama sesama CGP. Hal ini akan mendorong peningkatan kompetensi dan kematangan pribadi saya terutama dalam pengabdian saya untuk menebalkan kodrat baik murid sehingga tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.

Dari materi yang saya pelajari hal menarik bagi diri saya adalah terkait segitiga restitusi serta tahapannya. Dalam pikiran saya muncul sebuah pertanyaan, apakah tahapan restitusi tersebut kaku dan harus berurut, atau bisa disesuaikan kebutuhan dengan menerapkan tahap mana saja tergantung situasi? Pemikiran itu mendorong saya berdiskusi dengan teman sesama CGP dan menggali materi lebih dalam. Ternyata tahapan restitusi bisa diawali dari tahapan manapun sesuai kebutuhan. Dengan demikian ketika saya menemukan kasus di sekolah dan harus mengimplementasikan restitusi untuk membantu siswa saya bisa memilih tahapan sesuai kebutuhan. Hal ini karena tantangan yang saya hadapi di sekolah sangat beragam karena kondisi siswa juga beragam. Dengan penerapan tahapan restitusi yang sesuai kondisi ini bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang saya hadapi di sekolah.

Pengalaman belajar terkait materi budaya positif yang saya alami juga menambah sudut pandang baru. Sebelumnya ketika membantu menyelesaikan kasus siswa, saya tidak pernah memosisikan diri sebagai teman dalam posisi kontrol saya. Namun dari materi yang saya peroleh saya menjadi paham bahwa hal tersebut bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Dengan begitu, variasi posisi kontrol guru terhadap siswa akan membuat saya bisa memilih posisi kontrol apa yang paling sesuai berdasarkan kebutuhan dan kasus yang terjadi. Kedepannya saya akan menerapkan variasi posisi kontrol tersebut agar bisa merasakan langsung dampak yang saya rasakan sebagai guru sekaligus melihat perubahan yang terjadi pada siswa dengan posisi kontrol saya tersebut.

Hal tersebut sebelumnya telah saya terapkan meskipun saya tidak mengetahui secara teori mengenai restitusi. Saya seringkali menerapkan tahapan segitiga restitusi itu secara acak dengan tidak menghakimi siswa tapi mendengar cerita berdasarkan versi mereka. Hal ini bisa menjadi praktik baik yang telah saya lakukan. Ini saya lakukan karena sebuah pemahaman dari buku yang saya baca bahwa sebagai guru kita harus melihat dunia dari sudut pandang siswa bukan dari sudut pandang guru semata.