Oleh Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.
CGP Angkatan 8 Kota Banjar
UPTD SMP Negeri 6 Banjar
Sebagai seorang pendidik, kita berada pada garis
terluar dan terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan. Dalam
sebuah sistem pendidikan, sebagai guru kita adalah eksekutor terakhir dalam
mengaplikasikan apapun kebijakan pendidikan. Karena itu, guru memiliki peran
istimewa untuk mewujudkan pendidikan seperti yang diharapkan. Ditangan para
eksekutor inilah, para murid belajar dan meniru segala hal dari guru. Kita
dituntut untuk bisa memberi teladan pada murid agar mereka bisa meniru
nilai-nilai kebajikan yang kita wariskan. Maka, hakikat pendidikan untuk
meningkatkan kualitas manusia Indonesia ujung tombak implementasinya berada di
tangan para guru.
Karena itu, sebagai calon guru penggerak yang
memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan perilaku sebagai guru yang patut
digugu dan ditiru saya mencoba membuat koneksi antar materi pada modul 3.1
mengenai pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin
berdasarkan beberapa pertanyaan pemandu sebagai berikut:
1. Bagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan
Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai
seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan tiga
semboyannya yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tutu wuri
handayani memiliki kaitan sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan
sebagai pemimpin. Ing ngarso sung tulodo yang berarti dari depan, seorang
pemimpin harus mampu memberi teladan kepada yang dipimpinnya. Ing madyo mangun
karso maknanya dari tengah, seorang pemimpin itu harus memberikan motivasi, dan
dukungan semangat kepada yang dipimpinnya. Sementara Tut wuri handayani
memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus mampu mendorong dari belakang agar
yang dipimpinnya mampu bergerak menuju hal yang lebih baik.
Semboyan ini memiliki makna filosofis terkait
dengan pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin yaitu keputusan apapun yang
dipilih oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mengedepankan
keberpihakan pada murid. Dengan demikian, segala keputusan itu harus mampu
dipertanggungjawabkan karena tugas guru bukan semata memberi contoh dari depan,
namun juga membersamai murid dari sampingnya serta mendorong mereka dari
belakang..
2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam
diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan
suatu keputusan?
Setiap orang bertindak sesuai dengan nilai-nilai
yang diyakininya. Pada murid, nilai-nilai kebajikan tersebut akan terbentuk
melalui budaya positif yang tercipta dilingkungannya. Karena itu, sangat
penting bagi guru untuk menerapkan budaya positif kepada murid sebagai upaya
untuk menguatkan nilai kebajikan serta keyakinan kelas sebagai aturan yang
disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam sebuah kelas. Semua nilai
kebajikan ini akan sangat mempengaruhi seseorang ketika mengambil sebuah
keputusan. Ketika dalam sebuah pengambilan keputusan terdapat nilai kebajikan
yang saling bertentangan maka saat itulah muncul dilema etika. Dengan memahami
prinsip-prinsip yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan, baik
berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis pada rasa peduli,
seorang pemimpin akan mampu mengambil keputusan terbaik melalui beragam
pertimbangan dengan memanfaatkan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.
3. Bagaimana materi pengambilan keputusan
berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau
fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian
pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan
tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas
pengambilan keputusan tersebut? Hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi
coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.
Sebuah pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi
oleh kemampuan kita dalam menggali masalah serta fakta sebenarnya. Dan salah
satu cara melakukan hal tersebut adalah melalui coaching. Dengan kemampuan
coaching yang baik, seorang pendidik akan mampu melihat berbagai opsi yang
tersedia dari pilihan pengambilan keputusan yang memungkinkan. Bahkan pada saat
hanya tersedia dua opsi sekalipun, seorang pendidik yang kemampuan coaching
yang baik akan tetap mencari opsi trilema untuk mencari cara terbaik dari opsi
pengambilan keputusan yang seringkali menjadi kejutan. Dengan cara-cara seperti
itu, keputusan yang dihasilkan dari sebuah proses pengambilan keputusan yang
matang akan menghasilkan keputusan yang mudah dipertanggung jawabkan.
4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan
menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu
keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kompetensi sosial emosional seorang guru akan
sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Hal itu terjadi karena guru
yang memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan mampu mengambil
keputusan terbaik meskipun menghadapi dilema etika. Kompetensi kesadaran diri,
pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi akan membuat guru
mengambil keputusan dengan tetap mempertimbangkan ketiga prinsip pengambilan
keputusan baik berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis
pada rasa peduli. Dengan demikian, keputusan yang diambil oleh guru yang
memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan tetap menghasilkan
keputusan terbaik meskipun pilihan yang tersedia menyajikan dua nilai kebajikan
yang saling bertentangan sebagai dilema etika.
5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus
pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang
pendidik?
Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah
moral atau etika akan semakin menguatkan nilai kebajikan yang dianut dan
tertanam dalam diri seorang pendidik. Nilai-nilai tersebut akan menjadi rujukan
masalah moral atau etika seorang pendidik. Semakin sering dan terasah nilai
tersebut, maka semakin mudah baginya untuk menggunakan nilai tersebut. Karena
itu keberpihakan pada murid harus menjadi poin penting dalam penyelesaian
berbagai kasus yang dihadapi oleh pendidik.
Disisi lain, jika nilai moral atau etika pendidik
yang dipilih dalam pengambilan keputusan adalah yang bernilai negatif maka
pengambilan keputusan akan menyajikan pilihan benar dan salah sehingga hal
tersebut merupakan bujukan moral dan bukan merupakan dilema etika yang justru
menyajikan pilihan yang semuanya benar.
6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat
tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan
nyaman?
Sebuah pengambilan keputusan yang menghasilkan
keputusan yang tepat sasaran tentu saja tidak akan bisa diperoleh jika proses
pengambilan keputusan dilakukan secara asal-asalan. Karena itu, dibutuhkan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan dimulai dari mengenali nilai yang
saling bertentangan, mengenali siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta yang
relevan, melakukan uji terhadap arah pengambilan keputusan, mempertimbangkan
paradigma pengambilan keputusan, menelaah 3 prinsip pengambilan keputusan,
mempertimbangkan opsi trilema, membuat keputusan dan kemudian
merefleksikannya..
Jika 9 langkah pengambilan keputusan tersebut
dilakukan dengan baik hasil dari keputusan yang diambil tentu saja berdampak
pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.
7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda
untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika
ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?
Di lingkungan saya tantangan yang mungkin muncul
dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah
terutama berkaitan dengan implementasi dari 9 tahap pengambilan dan pengujian
keputusan. Tahap itu memang secara langkah mudah diingat dan tidak terlalu
sulit untuk diimplementasikan namun jika tanpa fungsi kontrol yang kuat tak
sedikit para pengambil keputusan malas melakukan refleksi dari keputusan yang
telah dibuat. Karena itulah kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak
sehingga implementasi 9 tahap pengambilan keputusan dapat terlaksana dengan
baik.
8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang
kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita?
Menurut saya terdapat pengaruh dari keputusan
yang kita ambil terhadap pengajaran memerdekakan murid. Bila keputusan yang
kita buat telah berpihak pada murid, maka tentu hal tersebut akan memerdekakan
murid kita. Sebaliknya, bila keputusan yang kita ambil tidak berpihak pada
murid, maka hal tersebut tidak akan memerdekakan murid kita. Atas dasar hal
tersebut, semua keputusan yang kita ambil semenstinya benar-benar memiliki
keberpihakan kepada murid kita, dengan begitu hal tersebut akan sesuai dengan
pengajaran yang memerdekakan murid kita.
9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam
mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan
murid-muridnya?
Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan tentu akan
menghasilkan dampak tertentu sebagai imbas dari pengambilan keputusan yang
telah dilakukannya. Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil maka hal
tersebut bisa mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya .Jika
Keputusan yang diambil berpihak kepada murid dan dilakukan secara tepat maka
kehidupan dan masa depan murid akan terpengaruh secara baik. Demikian
sebaliknya, jika keputusan yang diambil tidak memiliki keberpihakan kepada
murid apalagi jika dilakukan secara asal-asalan maka hal tersebut akan
berpengaruh negative terhadap masa depan murid-muridnya. Karena itu, keputusan
yang diambil harus dipertimbangkan secara matang sehingga dengan keputusan yang
baik serta matang akan memberi pengaruh positif terhadap masa depan murid.
10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran
modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Keputusan yang diambil harus berpedoman nilai-nilai filosofis Ki Hadjar
Dewantara dengan begitu keputusan yang diambil akan tetap memiliki keberpihakan
kepada murid. Selain itu, ketika keputusan diambil memiliki keberpihakan
terhadap murid hal tersebut berarti sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.
Selain itu, pengambilan keputusan juga harus didasarkan pada budaya
positif yang mendorong munculnya nilai kebajikan sehingga dapat menghasilkan
keputusan yang berpihak pada kebutuhan murid.
Dalam pengambilan keputusan yang baik keterampilan coaching akan sangat
diperlukan bagi seorang pemimpin sehingga keputusan yang diambilnya akan sesuai
dengan visi misi yang menjadi panduan setiap langkah yang diambilnya.
Tak kalah pentingnya dalam pengambilan keputusan yang baik adalah
kompetensi social emosional yang akan membuat seorang pemimpin mampu mengelola
situasi dengan baik sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai dengan
kebutuhan.
Terakhir, karena keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawabkan maka pemimpin
harus memiliki kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri
(self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan
berelasi karena apapun yang diambil
dalam keputusannya akan
berdampak terhadap orang lain.
Pengambilan keputusan ini juga harus dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness) serta menyadari berbagai pilihan dan
konsekuensi yang harus dihadapi.
Dengan begitu, diharapkan keputusan yang diambil dapat
dipertanggungjawabkan.
11. Sejauh mana pemahaman Anda
tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema
etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip
pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.
Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Menurut
saya berdasarkan materi yang telah dipelajari dalam modul ini dilemma etika
adalah opsi yang tersedia dalam pengambilan keputusan dimana seorang pemimpin
harus memilih keputusan dengan opsi yang tersedia adalah benar semuanya. Namun
jika pilihan yang tersedia adalah benar vs salah maka hal tersebut tidak
disebut dilemma etika, namun bujukan moral.
Dalam
pengambilan keputusan terdapat 4 paradigma yang bisa menjadi bahan pertimbangan
yaitu individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetiaan lawan
kebenaran, jangka pendek lawan jangka panjang. Ke 4 paradigma ini biasanya
muncul sebagai pilihan dimana opsi pilihan yang tersedia adalah benar semuanya
atau termasuk dilemma etika.
Sementara
3 prinsip pengambilan keputusan adalah berpikir berbasis hasil akhir, berbasis
rasa peduli, dan berbasis peraturan. Kesemua prinsip pengambilan keputusan itu
bisa dipilih dan di sesuaikan penggunaanya tergantung situasi dan kebutuhan di
lapangan.
Untuk
9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu Mengenali nilai-nilai
yang saling bertentangan, Siapa saja yang terlibat dalam situasi ini, Kumpulkan
fakta-fakta yang relevan dengan situasinya, Pengujian benar atau salah melalui
uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan/idola,
Pengujian paradigma benar lawan benar, paradigma individu lawan kelompok,
keadilan lawan rasa kasihan, kesetian lawan kebenaran, dan jangka pendek lawan
jangka Panjang, Melakukan prinsip resolusi berpikir berdasarkan hasil akhir,
berpikir berdasarkan rasa peduli, dan berpikir berdasarkan peraturan,
Investigasi opsi trilema, Buat keputusan, dan Merefleksikan keputusan yang
telah dibuat.
Hal yang diluar dugaan adalah bahwa ternyata seringkali keputusan itu
menyajikan pilihan benar vs benar. Kondisi tersebut mendorong kita sebagai
pemimpin yang berpihak kepada murid memahami 4 paradigma, 3 prinsip dan 9
langkah pengambilan keputusan.
12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan
keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma? Bilamana pernah, apa
bedanya dengan apa yang dipelajari di modul ini?
Jika melihat pengalaman saya pribadi ketika berkecimpung di dunia
pendidikan selama ini, tentu saja saya pernah mengalami situasi pengambilan
keptusan dengan moral dilemma yang menjadi masalahnya. Secara umum pengambilan
keputusan yang saya lakukan tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang ada
dalam modul ini. Namun begitu saya tidak menyadari bahwa mestinya ada
langkah-langkah tertentu dalam pengambilan keputusan seperti 9 pengambilan
keputusan sehingga keputusan bisa ditinjau berulangkali kelebihan dan
kekurangannya dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan.
13. Bagaimana dampak mempelajari
konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil
keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Setelah mempelajari modul ini tentu saja saya mengalami perubahan dalam
mengambil keputusan. Selain memahami teori dengan lebih rinci dalam pengambilan
keputusan, saya juga memahami cara-cara praktis yang bermanfaat untuk melakukan
pengambilan keputusan yang tepat sehingga ketika mengalami dilemma etika saya
tidak terlalu kebingungan. Begitu pula saya memahami serta mampu menguji mana
yang termasuk dilemma etika serta mana yang termasuk bujukan moral.
14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai
seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?
Tentu saja topik ini sangat penting bagi saya dalam mengimplementasikan
pengambilan keputusan yang baik. Sebagai individu saya merasa berkepentingan
untuk memiliki kompetensi dalam pengambilan keputusan yang baik serta memilih
keputusan terbaik untuk kepentingan saya sendiri. Sebagai pemimpin apalagi saya
sangat membutuhkan topik modul ini karena seorang pemimpin harus mampu mengambil
keputusan dengan tetap memiliki keberpihakan kepada murid. Dengan penguasan
kemampuan mengambil keputusan, kualitas seorang pemimpin akan menjadi lebih
baik dari hari ke hari.
.jpeg)


