Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.
CGP Angkatan 8 Kota Banjar Provinsi Jawa Barat
Pada dasarnya, sebagai calon guru penggerak saya menyadari posisi saya yang memiliki peran sentral untuk menciptakan budaya positif di sekolah. Peran itu, menjadi tantangan tersendiri bagi saya sekaligus menjadi pemicu untuk terus berkontribusi terhadap kemajuan sekolah melalui berbagai hal yang bisa saya lakukan. Salah satu diantaranya yaitu dengan menerapkan berbagai konsep yang telah dipelajari dalam program Guru Penggerak baik dalam modul 1.1 tentang Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak, modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak dan modul 1.4 tentang Budaya Positif. Keempat materi ini saling terkait dan mendukung sebab yang menjadi dasarnya adalah filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara, dikuatkan oleh nilai dan peran guru penggerak, dipandu dengan visi guru penggerak sehingga bisa mendorong tumbuhnya budaya positif di sekolah.
Salah satu dari konsep Budaya Positif antara lain yaitu penerapan disiplin positif. Terkait hal itu, saya bertanggung jawab untuk melakukan perubahan melalui prakarsa perubahan dengan memaksimalkan sumber daya yang tersedia di sekolah baik kodrat zaman maupun kodrat makan untuk menebalkan kondrat baik murid sehingga tumbuh sesuai harapan. Perubahan itu tidak akan terjadi andai saja saya tidak menerapkan nilai dan peran guru pengerak, misalnya saja saya hanya bergerak sendiri tanpa membangun relasi dan komunikasi dengan pihak lain di sekolah dalam mengupayakan tujuan tersebut. Dengan demikian, kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan di sekolah sangat diperlukan, agar selain peran dan tanggung jawab saya sebagai calon guru penggerak menjadi lebih ringan, hal ini tentu saja akan mendorong kemungkinan tercapainya tujuan yang lebih potensial.
Selain itu, konsep lain seperti hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, keyakinan kelas serta restitusi juga tak jauh berbeda dengan penerapan disiplin positif. Yang menjadi dasar dari semua implementasi tersebut adalah filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara dengan memaksimalkan nilai dan peran guru penggerak yang menjadikan visi guru penggerak sebagai panduan utama untuk mendorong budaya positif tumbuh dan berkembang di sekolah.
Untuk memaksimalkan berbagai hal yang telah saya pelajari dalam program guru penggerak terutama dalam modul 1 saya mencoba merefleksikan pengalaman belajar saya sejauh ini. Berbagai hal yang saya pelajari dalam modul 1 tentang Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, Visi Guru Penggerak dan Budaya Positif membuat wawasan saya bertambah baik secara akademik maupun secara praktis. Berbagai tugas yang saya kerjakan terkait modul 1 ini membuat pemahaman saya menjadi lebih tajam. Dalam mengerjakan tugas sering kali saya perlu untuk mendapatkan sudut pandang lain untuk menguji pendapat saya. Hal ini mendorong saya untuk berdiskusi dengan teman sejawat di sekolah.
Dampaknya, pengalaman belajar tersebut baik dalam mempelajari materi dalam modul maupun melaksanakan diskusi dengan rekan lainnya membuat saya merasa senang sekaligus menguatkan hubungan emosional dengan kolega di sekolah. Tak jarang pula, rekan kerja baik sesama guru maupun kepala sekolah memberi semangat melihat saya nampak lelah dengan tenaga yang sudah terasa habis karena menyelesaikan tugas utama di sekolah, Hal itu menjadikan keseluruhan proses yang saya alami menjadi lebih berkesan.
Dari proses belajar yang saya alami, ada hal baik yang telah saya lakukan seperti misal berinisiatif melakukan diskusi untuk menguatkan pemahaman. Selain itu, saya juga sering mencari referensi tambahan dari buku di perpustakaan sekolah untuk menguatkan pemahaman saya. Hal seperti ini tentu harus saya pertahankan agar hasil belajar saya tidak mengecewakan. Namun demikian, saya juga tidak menutup mata terhadap banyak hal yang perlu saya perbaiki dalam keterlibatan saya pada proses belajar. Misalnya saya sering kali membaca materi dengan sekilas sebab saya merasa banyak sekali bahan bacaan baik dari modul maupun dari LMS yang harus saya selesaikan. Beruntung hal tersebut bisa ditanggulangi dengan berdiskusi bersama sesama CGP. Hal ini akan mendorong peningkatan kompetensi dan kematangan pribadi saya terutama dalam pengabdian saya untuk menebalkan kodrat baik murid sehingga tumbuh dan berkembang sesuai kodratnya.
Dari materi yang saya pelajari hal menarik bagi diri saya adalah terkait segitiga restitusi serta tahapannya. Dalam pikiran saya muncul sebuah pertanyaan, apakah tahapan restitusi tersebut kaku dan harus berurut, atau bisa disesuaikan kebutuhan dengan menerapkan tahap mana saja tergantung situasi? Pemikiran itu mendorong saya berdiskusi dengan teman sesama CGP dan menggali materi lebih dalam. Ternyata tahapan restitusi bisa diawali dari tahapan manapun sesuai kebutuhan. Dengan demikian ketika saya menemukan kasus di sekolah dan harus mengimplementasikan restitusi untuk membantu siswa saya bisa memilih tahapan sesuai kebutuhan. Hal ini karena tantangan yang saya hadapi di sekolah sangat beragam karena kondisi siswa juga beragam. Dengan penerapan tahapan restitusi yang sesuai kondisi ini bisa menjadi solusi bagi permasalahan yang saya hadapi di sekolah.
Pengalaman belajar terkait materi budaya positif yang saya alami juga menambah sudut pandang baru. Sebelumnya ketika membantu menyelesaikan kasus siswa, saya tidak pernah memosisikan diri sebagai teman dalam posisi kontrol saya. Namun dari materi yang saya peroleh saya menjadi paham bahwa hal tersebut bisa dilakukan sesuai kebutuhan. Dengan begitu, variasi posisi kontrol guru terhadap siswa akan membuat saya bisa memilih posisi kontrol apa yang paling sesuai berdasarkan kebutuhan dan kasus yang terjadi. Kedepannya saya akan menerapkan variasi posisi kontrol tersebut agar bisa merasakan langsung dampak yang saya rasakan sebagai guru sekaligus melihat perubahan yang terjadi pada siswa dengan posisi kontrol saya tersebut.
Hal tersebut sebelumnya telah saya terapkan meskipun saya tidak mengetahui secara teori mengenai restitusi. Saya seringkali menerapkan tahapan segitiga restitusi itu secara acak dengan tidak menghakimi siswa tapi mendengar cerita berdasarkan versi mereka. Hal ini bisa menjadi praktik baik yang telah saya lakukan. Ini saya lakukan karena sebuah pemahaman dari buku yang saya baca bahwa sebagai guru kita harus melihat dunia dari sudut pandang siswa bukan dari sudut pandang guru semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar