Laman

Senin, 04 September 2023

KONEKSI ANTAR MATERI-MODUL 2.3. COACHING


 Oleh Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.
CGP Angkatan 8 Kota Banjar
UPTD SMP Negeri 6 Banjar Provinsi Jawa Barat

A. Pemikiran Reflektif Terkait Pengalaman Belajar

Coaching merupakan salah satu materi dalam program CGP di modul 2.3. Materi ini melatih CGP untuk melakukan proses kolaborasi dengan tujuan mencari solusi antara coach dan coachee sebagai proses pengembangan diri dalam meningkatkan performa kerja, pembelajaran diri, pertumbuhan diri dan kemampuan profesional guru dalam menghadapi beragam tantangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Hal itu terlihat dari proses pencarian solusi dalam percakapan coaching antara coach dan coachee yang dialami oleh penulis dalam praktik coaching di modul 2.3. Solusi dari permasalahan yang disampaikan coachee pada dasarnya ditemukannya sendiri melalui percakapan coaching antara coach dan coachee. Dengan percakapan yang kolaboratif yang menekankan pada kemitraan, coach mampu mendorong dan memotivasi coachee untuk membuka sudut pandangnya sendiri dengan menemukan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman yang dihadapi coachee sehingga menemukan formula yang memungkinkan untuk mendapatkan solusi dari permasalahan coachee.

Saat mempraktikkan proses coaching itu banyak perasaan terlibat yang dirasakan oleh penulis. Hal pertama yang paling terasa ketika menjadi coachee adalah perasaan lega setelah mampu mengemukakan masalah yang dihadapi. Apalagi proses itu terjadi dengan menekankan kemitraan, sehingga coachee tidak merasa dihakimi dan disalahkan. Hal ini membuat coachee lebih nyaman untuk terbuka dan mengemukakan masalahnya sekaligus mencoba membuka diri terhadap peluang yang dilihatnya dengan bantuan coach. Selain itu, coaching yang dilaksanakan juga membuka sudut pandang CGP terhadap proses coaching yang ideal seperti yang seharusnya. Dengan demikian pengalaman itu bisa menjadi bekal dikemudian hari saat CGP harus mempraktikkan coaching secara nyata di tempat kerjanya.

Pengalaman itu akhirnya membuat CGP menemukan hal yang sudah baik terkait dengan keterlibatan dalam proses belajar. Dari proses itu, saya merasa bahwa secara umum ketika mempraktikkan proses coaching sebagai coach, saya sudah melakukan percakapan dengan alur TIRTA. Semua tahapan itu muncul dalam percakapan, mulai dari menggali tujuan, identifikasi, refleksi dan tanggung jawab. Selain itu, saya juga sudah melakukan percakapan coaching secara baik. Hal tersebut nampak dari presence (kehadiran penuh), mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan berbobot dalam percakapan.

Meskipun begitu, sebagai guru yang belum memiliki jam terbang yang tinggi dalam proses coaching terutama sebagai coach dan supervisor, saya merasa bahwa saya masih perlu memperbaiki pertanyaan-pertanyaan yang harus diajukan dalam percakapan sesuai alur TIRTA. Selama proses belajar, saya mengajukan pertanyaan dengan melihat draft pertanyaan yang saya susun berdasarkan alur TIRTA, hal itu menurut saya membuat percakapan kurang berkembang sesuai dengan kondisi. Sebagai coach saya terlalu terpaku pada daftar pertanyaan yang harus diajukan, sehingga penggalian informasi yang harus diperoleh dari coachee belum maksimal. Selain itu, saya juga harus memperbaiki berbagai pertanyaan yang saya ajukan sehingga memenuhi kriteria pertanyaan berbobot yang mampu menggali secara terbuka terhadap informasi yang dibutuhkan dari cochee. Untuk sampai pada tahap tersebut memang tidak mudah. Perlu waktu dan jam terbang yang tinggi sehingga saya bisa melakukan percakapan coaching secara natural tanpa harus mengacu pada pertanyaan yang sudah disusun sebelumnya. Namun dengan pertanyaan dadakan yang alami muncul sesuai dengan informasi dari coachee dengan tetap mengacu kepada alur TIRTA.

Pengalaman mempraktikkan proses coaching dengan alur TIRTA tersebut akhirnya mendorong saya meningkatkan kompetensi dan kematangan pribadi. Hal itu saya dapatkan dari proses coaching baik ketika berperan sebagai supervisor, coach maupun coachee. Pengalaman itu benar-benar berbekas karena saya akhirnya menyadari bahwa kemitraan dalam proses coaching adalah sebuah kekuatan yang mampu mendorong coachee menggali potensinya sendiri dengan tetap terbuka terhadap beragam peluang yang ada di sekelilingnya. Ketika berperan menjadi supervisor tetap mengobservasi secara profesional sesuai dengan rujukan tanpa harus menyalahkan. Demikian pula ketika berperan sebagai coach lebih menekankan terhadap kemitraan dengan coachee sehingga proses coaching bisa dilaksanakan secara nyaman dan mampu menggali informasi dari coachee seaktual mungkin. Demikian pula ketika berperan sebagai coachee, kekuatan kemitraan mendorong saya untuk berani mengungkapkan pendapat tanpa merasa dihakimi oleh coach sebab proses itu lebih terasa seperti curhat dan berbagi sehingga bisa menemukan solusi dengan percakapan yang dibangun bersama coach.

B. Analisis Untuk Implementasi Dalam Konteks CGP

Proses coaching yang dilaksanakan dengan sistem among sesuai tuntunan Ki Hadjar Dewantara mengajak guru untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat dalam mencari solusi dan permasalahan yang terjadi di lapangan. Proses ini akan terlaksana secara efektif jika kolaborasi yang dibangun antara coach dan coachee menggunakan komunikasi efektif yang berbasis kemitraan. Untuk itulah, diperlukan kemampuan coach yang penting dalam percakapan coaching. Kemampuan tersebut antara lain, presence (hadir sepenuh hati), mendengarkan aktif, serta mengajukan pertanyaan yang berbobot. Lantas bagaimana jika dalam proses coaching, coachee tidak terbuka dan menutup diri terhadap coach? Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri dalam mengaplikasikan proses coaching. Meski sesungguhnya hal tersebut bisa diminimalisasi dengan memaksimalkan kompetensi coaching mulai dari presence, mendengarkan aktif dan mengajukan pertanyaan yang berbobot. Ketiga kompetensi itu, jika diterapkan secara maksimal akan mampu mendorong coachee untuk merespon dengan baik. Coachee yang kurang terbuka sekalipun jika diberikan pertanyaan berbobot yang memancing jawaban terbuka akan terangsang untuk merespon sesuai kondisi dan masalah yang dihadapinya. Dengan demikian kemampuan coach yang baik akan sangat membantu dalam melaksanakan coaching agar mencapai tujuan sesuai harapan.

Sebenarnya percakapan coaching terdiri dari beberapa jenis antara lain percakapan untuk perencanaan, percakapan untuk pemecahan masalah, percakapan untuk berefleksi, dan percakapan untuk kalibarasi. Semua jenis percakapan coaching ini bisa digunakan dengan cara menyesuaikan sesuai kebutuhan coachee. Hal terpenting dari semua itu adalah bahwa tujuan coachee melakukan coaching harus digali sedemikian rupa oleh coach sehingga jenis percakapan yang dilakukan bisa menyesuaikan kebutuhan coachee. Ini menjadi esensial karena tujuan utama dari proses coaching adalah untuk menemukan solusi. Dengan begitu, proses coaching yang dilaksanakan akan menjadi secercah harapan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam pekerjaannya sehari-hari sebagai sebuah profesi, baik ketika merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran sebagai tugas pokoknya maupun ketika melaksanakan tugas tambahan sesuai dengan fungsinya sebagai ujung tombak pendidikan di sekolah.

Tantangan yang sebenarnya ada ketika melaksanakan proses coaching di sekolah adalah belum meratanya pemahaman terhadap proses coaching kepada guru dan Kepala Sekolah secara meluas. Jangankan guru yang jarang berperan sebagai coach dalam proses coaching di tempat kerjanya, Kepala Sekolah saja yang seringkali dituntut untuk melaksanakan supervisi akademik, tidak sedikit yang belum memahami pelaksanaan coaching yang seharusnya.. Sebagian besar dari mereka menganggap supervisi yang dilakukan semata-mata untuk menilai, memperbaiki, dan mengajari guru. Dengan demikian, unsur kemitraan yang mestinya menjadi fokus utama, justru luput dalam pelaksanaannya. Para coach yang belum memahamai cara melakukan coaching dengan baik ini seringkali secara tidak sadar menghakimi menyalahkan coachee meski tak sedikit dari mereka yang ketika diminta untuk menunjukkan dan mempraktekkan dengan memberi teladan serta memberi solusi, mereka sendiri justru kebingungan sama-sama tidak mengetahui caranya.

Karena itulah, menyebarkan pemahaman terhadap proses coaching yang ideal ini menjadi sesuatu yang penting dilakukan. Kegiatan seperti diseminasi materi coaching akan sangat bermanfaat untuk menyamakan persepsi sekaligus memperluas pemahaman terhadap proses coaching yang baik. Cara ini akan menjadi alternatif solusi terhadap tantangan yang muncul di sekolah. Kolaborasi antara Kepala Sekolah, Guru Penggerak, serta pengawas dalam memaksimalkan proses coaching di sekolah akan memberi warna tersendiri terhadap pencapaian dan pelaksanaan coaching yang baik dengan tetap mengedepankan unsur berbagi dan berkolaborasi dari semua elemen sekolah.

C. Keterhubungan

Pelaksanaan supervisi akademik selama ini yang belum sesuai dengan proses coaching menjadi lebih terlihat mana yang harus diperbaiki dan disempurnakan. Pembelajaran dalam modul 2.3 memberi inspirasi yang kaya terhadap perbaikan yang harus dilakukan dalam proses coaching selama ini yang sering kita laksanakan. Hal-hal yang belum sesuai itu semestinya menjadi bahan evaluasi dan perbaikan agar pemahaman CGP terhadap coaching terlihat manfaatnya dan memberikan warna terhadap perubahan yang terjadi di sekolah.

Di masa yang akan datang, CGP harus berperan aktif untuk mendorong pelaksanaan coaching yang ideal sehingga manfaat coaching akan diperoleh secara maksimal. Peran itu bisa ditunaikan melalui kolaborasi baik dengan Kepala Sekolah maupun Pengawas. Memulai dari diri sendiri akan menjadi sesuatu yang sangat baik. Kemudian selanjutnya mendorong komunitas untuk bergerak melakukan hal yang bisa mendorong pemahaman terhadap coaching yang baik lebih meluas.

Konsep atau praktik baik yang dilakukan dari modul lain yang dipelajari yaitu:

Modul 2.1 Untuk melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi yang berpihak pada murid, CGP bisa melaksanakan coaching untuk menentukan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan belajar, minat, dan gaya belajar mereka.

Modul 2.2 Sebagai pemimpin pembelajaran guru harus mampu mengaplikasikan budaya positif dengan prakarsa perubahan yang berpihak pada murid. Salah satu caranya adalah menerapkan pembelajaran KSE. Dengan melibatkan kompetensi sosial dan emosional proses coaching akan terlaksana dengan maksimal.

Sebenarnya, selain dari program CGP ada banyak bahan belajar serta informasi terkait coaching. Hal tersebut bisa ditemukan dari buku, youtube atau media lain. Hal itu semakin memperkaya wawasan CGP mengenai program coaching. Hal yang utama dari semua itu adalah coaching adalah proses kolaborasi yang bertujuan untuk menemukan solusi dengan mengedepankan unsur kemitraaan dan saling menghormati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar