Laman

Selasa, 26 September 2023

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin

Oleh Ade Iskandar, S. Pd., M. Pd.

CGP Angkatan 8 Kota Banjar

UPTD SMP Negeri 6 Banjar

Sebagai seorang pendidik, kita berada pada garis terluar dan terdepan dalam mengimplementasikan kebijakan pendidikan. Dalam sebuah sistem pendidikan, sebagai guru kita adalah eksekutor terakhir dalam mengaplikasikan apapun kebijakan pendidikan. Karena itu, guru memiliki peran istimewa untuk mewujudkan pendidikan seperti yang diharapkan. Ditangan para eksekutor inilah, para murid belajar dan meniru segala hal dari guru. Kita dituntut untuk bisa memberi teladan pada murid agar mereka bisa meniru nilai-nilai kebajikan yang kita wariskan. Maka, hakikat pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia ujung tombak implementasinya berada di tangan para guru.

Karena itu, sebagai calon guru penggerak yang memiliki tanggung jawab besar dalam mewujudkan perilaku sebagai guru yang patut digugu dan ditiru saya mencoba membuat koneksi antar materi pada modul 3.1 mengenai pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin berdasarkan beberapa pertanyaan pemandu sebagai berikut:

1. Bagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?

Filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan tiga semboyannya yaitu ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tutu wuri handayani memiliki kaitan sangat erat dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai pemimpin. Ing ngarso sung tulodo yang berarti dari depan, seorang pemimpin harus mampu memberi teladan kepada yang dipimpinnya. Ing madyo mangun karso maknanya dari tengah, seorang pemimpin itu harus memberikan motivasi, dan dukungan semangat kepada yang dipimpinnya. Sementara Tut wuri handayani memiliki makna bahwa seorang pemimpin harus mampu mendorong dari belakang agar yang dipimpinnya mampu bergerak menuju hal yang lebih baik.

Semboyan ini memiliki makna filosofis terkait dengan pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin yaitu keputusan apapun yang dipilih oleh seorang guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mengedepankan keberpihakan pada murid. Dengan demikian, segala keputusan itu harus mampu dipertanggungjawabkan karena tugas guru bukan semata memberi contoh dari depan, namun juga membersamai murid dari sampingnya serta mendorong mereka dari belakang..

2. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Setiap orang bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Pada murid, nilai-nilai kebajikan tersebut akan terbentuk melalui budaya positif yang tercipta dilingkungannya. Karena itu, sangat penting bagi guru untuk menerapkan budaya positif kepada murid sebagai upaya untuk menguatkan nilai kebajikan serta keyakinan kelas sebagai aturan yang disepakati oleh seluruh pihak yang terlibat dalam sebuah kelas. Semua nilai kebajikan ini akan sangat mempengaruhi seseorang ketika mengambil sebuah keputusan. Ketika dalam sebuah pengambilan keputusan terdapat nilai kebajikan yang saling bertentangan maka saat itulah muncul dilema etika. Dengan memahami prinsip-prinsip yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan, baik berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis pada rasa peduli, seorang pemimpin akan mampu mengambil keputusan terbaik melalui beragam pertimbangan dengan memanfaatkan 9 langkah dalam pengambilan keputusan.

3. Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Sebuah pengambilan keputusan akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita dalam menggali masalah serta fakta sebenarnya. Dan salah satu cara melakukan hal tersebut adalah melalui coaching. Dengan kemampuan coaching yang baik, seorang pendidik akan mampu melihat berbagai opsi yang tersedia dari pilihan pengambilan keputusan yang memungkinkan. Bahkan pada saat hanya tersedia dua opsi sekalipun, seorang pendidik yang kemampuan coaching yang baik akan tetap mencari opsi trilema untuk mencari cara terbaik dari opsi pengambilan keputusan yang seringkali menjadi kejutan. Dengan cara-cara seperti itu, keputusan yang dihasilkan dari sebuah proses pengambilan keputusan yang matang akan menghasilkan keputusan yang mudah dipertanggung jawabkan.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kompetensi sosial emosional seorang guru akan sangat berpengaruh terhadap pengambilan keputusan. Hal itu terjadi karena guru yang memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan mampu mengambil keputusan terbaik meskipun menghadapi dilema etika. Kompetensi kesadaran diri, pengelolaan diri, kesadaran sosial dan keterampilan berelasi akan membuat guru mengambil keputusan dengan tetap mempertimbangkan ketiga prinsip pengambilan keputusan baik berpikir berbasis hasil, berbasis peraturan, maupun berbasis pada rasa peduli. Dengan demikian, keputusan yang diambil oleh guru yang memiliki kompetensi sosial emosional yang baik akan tetap menghasilkan keputusan terbaik meskipun pilihan yang tersedia menyajikan dua nilai kebajikan yang saling bertentangan sebagai dilema etika.

5. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin menguatkan nilai kebajikan yang dianut dan tertanam dalam diri seorang pendidik. Nilai-nilai tersebut akan menjadi rujukan masalah moral atau etika seorang pendidik. Semakin sering dan terasah nilai tersebut, maka semakin mudah baginya untuk menggunakan nilai tersebut. Karena itu keberpihakan pada murid harus menjadi poin penting dalam penyelesaian berbagai kasus yang dihadapi oleh pendidik.

Disisi lain, jika nilai moral atau etika pendidik yang dipilih dalam pengambilan keputusan adalah yang bernilai negatif maka pengambilan keputusan akan menyajikan pilihan benar dan salah sehingga hal tersebut merupakan bujukan moral dan bukan merupakan dilema etika yang justru menyajikan pilihan yang semuanya benar.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?

Sebuah pengambilan keputusan yang menghasilkan keputusan yang tepat sasaran tentu saja tidak akan bisa diperoleh jika proses pengambilan keputusan dilakukan secara asal-asalan. Karena itu, dibutuhkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dimulai dari mengenali nilai yang saling bertentangan, mengenali siapa yang terlibat, mengumpulkan fakta yang relevan, melakukan uji terhadap arah pengambilan keputusan, mempertimbangkan paradigma pengambilan keputusan, menelaah 3 prinsip pengambilan keputusan, mempertimbangkan opsi trilema, membuat keputusan dan kemudian merefleksikannya..

Jika 9 langkah pengambilan keputusan tersebut dilakukan dengan baik hasil dari keputusan yang diambil tentu saja berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda?

Di lingkungan saya tantangan yang mungkin muncul dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus dilema etika adalah terutama berkaitan dengan implementasi dari 9 tahap pengambilan dan pengujian keputusan. Tahap itu memang secara langkah mudah diingat dan tidak terlalu sulit untuk diimplementasikan namun jika tanpa fungsi kontrol yang kuat tak sedikit para pengambil keputusan malas melakukan refleksi dari keputusan yang telah dibuat. Karena itulah kolaborasi dan kerja sama dengan berbagai pihak sehingga implementasi 9 tahap pengambilan keputusan dapat terlaksana dengan baik.

8. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita?

Menurut saya terdapat pengaruh dari keputusan yang kita ambil terhadap pengajaran memerdekakan murid. Bila keputusan yang kita buat telah berpihak pada murid, maka tentu hal tersebut akan memerdekakan murid kita. Sebaliknya, bila keputusan yang kita ambil tidak berpihak pada murid, maka hal tersebut tidak akan memerdekakan murid kita. Atas dasar hal tersebut, semua keputusan yang kita ambil semenstinya benar-benar memiliki keberpihakan kepada murid kita, dengan begitu hal tersebut akan sesuai dengan pengajaran yang memerdekakan murid kita.

9. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Seorang pemimpin pembelajaran yang mengambil keputusan tentu akan menghasilkan dampak tertentu sebagai imbas dari pengambilan keputusan yang telah dilakukannya. Apapun keputusan yang pada akhirnya diambil maka hal tersebut bisa mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya .Jika Keputusan yang diambil berpihak kepada murid dan dilakukan secara tepat maka kehidupan dan masa depan murid akan terpengaruh secara baik. Demikian sebaliknya, jika keputusan yang diambil tidak memiliki keberpihakan kepada murid apalagi jika dilakukan secara asal-asalan maka hal tersebut akan berpengaruh negative terhadap masa depan murid-muridnya. Karena itu, keputusan yang diambil harus dipertimbangkan secara matang sehingga dengan keputusan yang baik serta matang akan memberi pengaruh positif terhadap masa depan murid.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Keputusan yang diambil harus berpedoman nilai-nilai filosofis Ki Hadjar Dewantara dengan begitu keputusan yang diambil akan tetap memiliki keberpihakan kepada murid. Selain itu, ketika keputusan diambil memiliki keberpihakan terhadap murid hal tersebut berarti sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.

Selain itu, pengambilan keputusan juga harus didasarkan pada budaya positif yang mendorong munculnya nilai kebajikan sehingga dapat menghasilkan keputusan yang berpihak pada kebutuhan murid.

Dalam pengambilan keputusan yang baik keterampilan coaching akan sangat diperlukan bagi seorang pemimpin sehingga keputusan yang diambilnya akan sesuai dengan visi misi yang menjadi panduan setiap langkah yang diambilnya.

Tak kalah pentingnya dalam pengambilan keputusan yang baik adalah kompetensi social emosional yang akan membuat seorang pemimpin mampu mengelola situasi dengan baik sehingga menghasilkan keputusan yang sesuai dengan kebutuhan.

Terakhir, karena keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan maka pemimpin harus memiliki kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness), dan keterampilan berelasi karena apapun yang diambil dalam keputusannya akan berdampak terhadap orang lain. Pengambilan keputusan ini juga harus dilakukan dengan kesadaran penuh (mindfullness) serta menyadari berbagai pilihan dan konsekuensi yang harus dihadapi. Dengan begitu, diharapkan keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan.

11. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?

Menurut saya berdasarkan materi yang telah dipelajari dalam modul ini dilemma etika adalah opsi yang tersedia dalam pengambilan keputusan dimana seorang pemimpin harus memilih keputusan dengan opsi yang tersedia adalah benar semuanya. Namun jika pilihan yang tersedia adalah benar vs salah maka hal tersebut tidak disebut dilemma etika, namun bujukan moral.

Dalam pengambilan keputusan terdapat 4 paradigma yang bisa menjadi bahan pertimbangan yaitu individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetiaan lawan kebenaran, jangka pendek lawan jangka panjang. Ke 4 paradigma ini biasanya muncul sebagai pilihan dimana opsi pilihan yang tersedia adalah benar semuanya atau termasuk dilemma etika.

Sementara 3 prinsip pengambilan keputusan adalah berpikir berbasis hasil akhir, berbasis rasa peduli, dan berbasis peraturan. Kesemua prinsip pengambilan keputusan itu bisa dipilih dan di sesuaikan penggunaanya tergantung situasi dan kebutuhan di lapangan.

Untuk 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yaitu Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, Siapa saja yang terlibat dalam situasi ini, Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasinya, Pengujian benar atau salah melalui uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi, dan uji panutan/idola, Pengujian paradigma benar lawan benar, paradigma individu lawan kelompok, keadilan lawan rasa kasihan, kesetian lawan kebenaran, dan jangka pendek lawan jangka Panjang, Melakukan prinsip resolusi berpikir berdasarkan hasil akhir, berpikir berdasarkan rasa peduli, dan berpikir berdasarkan peraturan, Investigasi opsi trilema, Buat keputusan, dan Merefleksikan keputusan yang telah dibuat.

Hal yang diluar dugaan adalah bahwa ternyata seringkali keputusan itu menyajikan pilihan benar vs benar. Kondisi tersebut mendorong kita sebagai pemimpin yang berpihak kepada murid memahami 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan.

12. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilemma? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang dipelajari di modul ini?

Jika melihat pengalaman saya pribadi ketika berkecimpung di dunia pendidikan selama ini, tentu saja saya pernah mengalami situasi pengambilan keptusan dengan moral dilemma yang menjadi masalahnya. Secara umum pengambilan keputusan yang saya lakukan tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang ada dalam modul ini. Namun begitu saya tidak menyadari bahwa mestinya ada langkah-langkah tertentu dalam pengambilan keputusan seperti 9 pengambilan keputusan sehingga keputusan bisa ditinjau berulangkali kelebihan dan kekurangannya dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi di lapangan.

13. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Setelah mempelajari modul ini tentu saja saya mengalami perubahan dalam mengambil keputusan. Selain memahami teori dengan lebih rinci dalam pengambilan keputusan, saya juga memahami cara-cara praktis yang bermanfaat untuk melakukan pengambilan keputusan yang tepat sehingga ketika mengalami dilemma etika saya tidak terlalu kebingungan. Begitu pula saya memahami serta mampu menguji mana yang termasuk dilemma etika serta mana yang termasuk bujukan moral.

14. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi anda sebagai seorang individu dan anda sebagai seorang pemimpin?

Tentu saja topik ini sangat penting bagi saya dalam mengimplementasikan pengambilan keputusan yang baik. Sebagai individu saya merasa berkepentingan untuk memiliki kompetensi dalam pengambilan keputusan yang baik serta memilih keputusan terbaik untuk kepentingan saya sendiri. Sebagai pemimpin apalagi saya sangat membutuhkan topik modul ini karena seorang pemimpin harus mampu mengambil keputusan dengan tetap memiliki keberpihakan kepada murid. Dengan penguasan kemampuan mengambil keputusan, kualitas seorang pemimpin akan menjadi lebih baik dari hari ke hari.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar