Sekolah sebagai tempat guru mengabdi tak ubahnya seperti sawah bagi petani dalam bercocok tanam. Petani merawat dan membesarkan tumbuhan padi sedangkan guru merawat dan membesarkan murid di sekolah. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk menjaga, dan memaksimalkan tumbuh kembang padi dan juga murid. Upaya yang meraka lakukan adalah memaksimalkan kodrat tumbuh kembang padi serta murid agar berkembang sesuai kodratnya.
Upaya yang dilakukan oleh guru di sekolah tersebut pada dasarnya dilakukan agar guru mampu membantu tumbuh kembang muridagar sesuai dengan potensi dirinya sendiri. Selain itu, untuk mencapai tujuan tersebut guru harus mengupayakan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung terhadap tumbuh kembangnya budaya positif murid. Karena peran yang paling utama bagi seorang guru adalah membangun budaya positif di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong tumbuhnya karakter baik murid.
1. Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal
Dalam membangun budaya positif di sekolah, salah satu hal yang harus dilihat kembali adalah bentuk penerapan disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Apakah mendorong penerapan disiplin positif melalui motivasi intrinsik ataukah ekstrinsik? Nilai-nilai kebajikan apa yang dipegang oleh seluruh warga sekolah sehingga mampu menerapkan disiplin positif dalam kehidupan di sekolah.
2. Teori Motivasi, Hukuman, Penghargaan, dan Restitusi
Disiplin positif merupakan bagian utama dari terwujudnya budaya positif. Dalam mempelajarinya, murid tidak perlu menerima hukuman dari guru sebab untuk menumbuhkan motivasi internal yang lebih kuat, guru harus mendorong tumbuhnya disiplin diri murid sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu kepada kebajikan universal.
3. Keyakinan Kelas
Keyakinan perannya lebih kuat dalam menggerakkan seseorang dibandingkan dengan peraturan. Hal ini karena keyakinan lebih terdorong oleh motivasi intrinsik dibanding dengan peraturan yang mendorong motivasi ekstrinsik. Agar budaya positif itu bisa tumbuh dan berkembang, perlu diciptakan dan disepakati keyakinan atau prinsip dasar bersama diantara para warga kelas.
4. 5 Kebutuhan Dasar Manusia
Pada dasarnya apapun perilaku murid pasti memiliki tujuan. Hal ini karena umumnya perilaku murid dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan, kebutuhan akan pilihan (kebebasan) dan kebutuhan untuk merasa senang. Ketika seorang guru memahami lima kebutuhan dasar manusia maka pada gilirannya guru tersebut tidak akan semata-mata melihat perilaku murid yang muncul dipermukaan saja tetapi akan melihat hal yang lebih essensial terkait dengan kebutuhan dasarnya sebagai manusia.
5. Restitusi: Lima Posisi Kontrol Guru
Lima Posisi kontrol yang bisa diterapkan guru antara lain sebagai penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Tujuan akhir dari lima posisi kontrol guru tersebut adalah pencapaian posisi manajer, dimana pada posisi ini murid bisa menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya sehingga menciptakan lingkungan yang positif, aman dan nyaman.
6. Restitusi: Segi Tiga Restitusi
Restitusi merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid mencari solusi dari masalah mereka Restitusi bisa membantu murid memiliki tujuan disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah melalui tahapan segi tiga restitusi yaitu antara lain: menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan kelas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar