Laman

Minggu, 20 Agustus 2023

MULAI DARI DIRI MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK


 Tahap Mulai Dari Diri Pada Modul 2.3 tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik, sebagai CGP saya harus menjawab beberapa pertanyaan reflektif sebagai berikut:

1.      Selama menjadi guru, tentunya pembelajaran Anda pernah diobservasi atau disupervisi oleh kepala sekolah Anda. Bagaimana perasaan Anda ketika diobservasi?

Ketika pembelajaran diobservasi oleh Kepala Sekolah seringkali saya merasa canggung dan tidak nyaman, sebab saya takut disalahkan dan dicari kesalahan. Selain itu, seringkali saya merasa tidak percaya diri ketika pembelajaran diobservasi atau di supervisi oleh Kepala Sekolah.

2. Ceritakan pengalaman Anda saat observasi dan pasca kegiatan observasi tersebut.

Selama menjadi guru sebenarnya saya sudah berulangkali di observasi baik oleh Kepala sekolah, Pengawas Mata Pelajaran, maupun oleh sesama guru. Tetapi yang sering saya rasakan berdasarkan pengalaman, yang pertama saya rasakan adalah saya merasa terbebani, sebab saya merasa diawasi, takut salah dan takut disalahkan. Perasaan seperti itu mungkin normal saja sebenarnya, sebab tidak ada satu pun orang yang ingin dicari-cari kesalahannya. Meskipun berdasarkan pengalaman perasaan itu kemudian hilang saat saya berpikir nothing to lose. Yang terjadi terjadilah. Saya berusaha melakukan yang terbaik yang saya bisa. Sisanya saya serahkan pada Taqdir. Berdasarkan pengalaman sebenarnya Kepala Sekolah/ Pengawas yang melakukan observasi atau supervisi tidak pernah menyalahkan atau mencari kesalahan kita. Hal itu sebenarnya hanya perasaan kita yang disupervisi saja. Pasca Kegiatan observasi biasanya Kepala Sekolah dan Guru mendiskusikan apa yang terjadi dalam proses belajar berdasarkan lembar observasi. 

3. Menurut Anda, bagaimanakah proses supervisi akademik yang ideal yang dapat membantu diri Anda berkembang sebagai seorang pendidik?

Menurut saya pribadi proses supervisi akademik yang ideal adalah yang menunjukkan hal yang sebenarnya secara objektif. Mungkin yang lebih aman kekurangan dan kelebihan dalam proses belajar mengajar yang diobservasi itu berdasarkan pendapat guru yang diobservasi dan bukan pendapat Kepala Sekolah atau pengawas yang melakukan supervisi. Sebab kalau demikian yang muncul justru terkesan mencari-cari kesalahan sebab jika dibalik yang disupervisi itu kepala sekolah/ pengawas mungkin hasil observasinya sama sama ada kurangnya. Namun jika kekurangan dan kelebihan dari proses KBM itu dinyatakan oleh guru yang disupervisi hal itu malah menjadi refleksi dan evaluasi yang justru berdampak baik

4. Menurut Anda, jika Anda saat ini menjadi seorang kepala sekolah yang perlu melakukan supervisi, dimana posisi Anda sehubungan dengan gambaran ideal di atas dari skala 1 s/d 10? Situasi belum ideal 1 dan situasi ideal 10.

Secara pribadi mungkin berada pada posisi 7. Sebab sebagai guru, di sekolah saya sering ditugaskan untuk melakukan supervisi terhadap rekan sejawat sebagai koordinator tim PKG. berdasarkan pengalaman tersebut seringkali ketika melakukan observasi atau supervisi saya meminta pendapat kepada guru yang disupervisi mengenai kelebihan dan kekurangan dari proses belajar yang telah dilaksanakannya. Dengan begitu guru yang disupervisi tidak merasa disalahkan dan dicari-cari kesalahannya.

5. Aspek apa saja yang Anda butuhkan untuk dapat mencapai situasi ideal itu?

Menurut saya aspek yang dibutuhkan untuk mencapai situasi ideal itu adalah komunikasi yang efektif dari Coach dan coachee. semua pihak saling mempercayai dan memerankan tugas masing-masing secara lebih bertanggung jawab. Tidak ada yang memiliki posisi lebih atas dari yang lain dan lebih menekankan pada rekan berbagi sehingga kedekatan emosional akan lebih terbangun.

Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan reflektif, tuliskan harapan Anda terkait modul ini :

  1. Apa saja harapan yang ingin Anda lihat pada diri Anda sebagai seorang pendidik setelah mempelajari modul ini?

Setelah saya mempelajari modul ini saya berharap mendapatkan pengetahuan dan praktik yang tepat dalam mempelajari cara melakukan coaching dalam supervisi akademik. Hal itu sangat bermanfaat untuk saya baik ketika menjadi guru yang diobservasi maupun ketika melakukan observasi/ supervisi kepada guru lain.

2. Apa saja kegiatan, materi, manfaat yang Anda harapkan ada dalam modul ini?

Kegiatan yang saya harapkan adalah saya mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan proses coaching baik ketika menjadi coach maupun ketika menjadi coachee.

Materi yang saya harapkan yaitu segala materi yang berkaitan dengan proses coaching yang ideal dan tindak lanjutnya

Manfaat yang saya harapkan antara lain saya mendapatkan pengetahuan dan ruang untuk melakukan praktik coaching yang ideal sehingga ke depannya saya bisa menjadi guru yang bukan hanya memahami cara melaksanakan coaching yang ideal tetapi juga mampu mempraktikkannya dengan ideal

Sabtu, 19 Agustus 2023

Koneksi Antar Materi Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional


Tugas Koneksi antar materi Modul 2.2 tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional ini merupakan salah satu tugas dari rangkaian tugas yang harus dipenuhi pada Program Calon Guru Penggerak Angkatan 8 Kota Banjar Provinsi Jawa Barat. Penulis mencoba membuat benang merah koneksi antar materi pada modul ini berdasarkan pertanyaan pemantik yang tersedia pada LMS Program Guru Penggerak. Pertanyaan Pemantik 
Apa kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional? 
Terkait dengan kesimpulan tentang perubahan pengetahuan, keterampilan, sikap sebagai pemimpin pembelajaran setelah mempelajari pembelajaran sosial dan emosional tentu saja mengalami penyempurnaan. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan kognitif saja tetapi juga memerlukan penguasaan kompetensi sosial dan emosional dalam melaksanakan peran sebagai pemimpin pembelajaran. Penguasaan KSE akan membuat guru semakin matang dalam bertindak karena memahami KSE yang harus diterapkan terutama ketika mendorong siswa menemukan kodratnya. 
Pembelajaran Sosial dan Emosional adalah proses pembentukan diri dengan ketrampilan-ketrampilan yang dibutuhkan anak (kesadaran diri, kontrol diri, kemampuan berelasi, dan lain-lain) untuk dapat bertahan dalam masalah sekaligus memiliki kemampuan memecahkannya, mengajarkan mereka menjadi orang yang baik, memberikan keseimbangan pada individu, dan mengembangkan kompetensi personal yang dibutuhkan untuk dapat menjadi sukses. 
Pembelajaran sosial dan emosional adalah mampu mendorong baik guru maupun murid memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam menghadapi masalah kehidupan sekaligus mencari solusi terbaik dari masalah tersebut. KSE tersebut antara lain kesadaran diri, manajemen diri, kemampuan berelasi, kesadaran sosial serta pengambilan keputusan yang bertanggung jawab 
Apa kaitan pembelajaran sosial dan emosional yang telah anda pelajari dengan modul-modul sebelumnya?
Terkait dengan modul sebelumnya pembelajaran sosial dan emosional yang saya pelajari maka saya jelaskan dibawah ini: 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.1 Filosofi Pemikiran KHD Kompetensi sosial dan emosional ini sejalan dengan Filosofi Pemikiran KHD adalah guru harus menciptakan kondisi well being, sehingga mampu menebalkan kodrat baik siswa dengan dukungan kodrat alam dan kodrat zaman sesuai dengan kebutuhan masing-masing murid yang unik. Hal ini sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan harus menuntun anak menebalkan kodratnya agar mencapai kebahagiaan dan keselamatan setinggi-tingginya. 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial Emosional dan Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak Pembelajaran Sosial dan emosional mendorong guru untuk mampu mengelola KSE guru maupun murid agar tercipta pembelajaran yang berpihak pada murid yang sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak. 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.3 Visi Guru Penggerak Dengan menggunakan pembelajaran sosial emosional guru dapat mewujudkan visi yang diharapkan dan dapat membentuk murid yang berakhlaq mulia sehingga profil pelajar pancasila akan mudah terwujud sesuai harapan 
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 1.4 Budaya Positif 
Melalui pembelajaran sosial dan emosional guru dapat mengenali dirinya sendiri dan dapat memahami serta mengendalikan emosinya masing masing yang sedang dialaminya, sehingga mampu mengontrol diri dan menerapkan disiplin positif dengan baik sesuai dengan kesadaran dirinya yang penuh.
Keterkaitan Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional dan Modul 2.1 Pembelajaran Untuk memenuhi kebutuhan belajar murid (Pembelajaran Berdiferensiasi) 
Dengan mempelajari pembelajaran sosial dan emosional, guru akan memiiki kemampuan untuk mengenali emosi dan perasaan masing-masing murid sehingga guru dapat menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kesiapan belajar, minat belajar dan profil belajar murid. 
1. Sebelum mempelajari modul ini, saya berpikir bahwa pembelajaran sosial dan emosional itu tidak terlalu penting untuk mendukung pembelajaran sehingga saya tidak pernah serius mempelajarinya. Setelah mempelajari modul ini, ternyata pembelajaran KSE sangat nendukung terhadap tercapainya pembelajaran secara umum sehingga sangat penting bagi seorang guru untuk memahami dan menguasainya sekaligus mendorong muridnya untuk memahami dan mengaplikasikannya. 
2. Berkaitan dengan kebutuhan belajar dan lingkungan yang aman dan nyaman untuk memfasilitasi seluruh individu di sekolah agar dapat meningkatkan kompetensi akademik maupun kesejahteraan psikologis (well-being), 3 hal mendasar dan penting yang saya pelajari adalah: 5 kompetensi sosial emosional, kesadaran penuh ( mindfulness), kesejahteraan psikologis (WELL-BEING) Kesadaran Diri kemampuan untuk memahami perasaan, emosi dan nilai nilai diri sendiri serta bagaimana pengaruhnya pada prilaku diri dalam berbagai situasi dan kondisi dalam aktivitas kehidupan sehari hari. Manajemen Diri Kemampuan dalam mengelola emosi, pikiran dan perilaku diri secara efektif dalam berbagai keadaan untuk mencapai tujuan dan aspirasi serta target yang diinginkan. Kesadaran Sosial Kemampuan cara pandang untuk memahami rasa empati terhadap orang lain seperti latar belakang RAS dan budaya yang beragam sehingga dapat menerima keadaan tersebut pada lingkungannya. Kesadaran Berelasi Kemampuan untuk membangun dan mempertahankan hubungan yang baik, sehat dan dinamis serta suportif untuk terciptanya lingkungan yang kondusif. Pengambilan keputusan yang bertanggungjawab Kemampuan ini berkaitan dengan pengambilan keputusan dalam pilihan pilihan yang baik dan konstruktif yang berdasarkan atas kepedulian. kapasitas dalam mempertimbangkan segala hal yang berkaitan dengan keamanan, kenyamanan dan manfaat serta konsekuensi dari berbagai tindakan tersebut sehingga tercipta kesejahteraan secara psikologis baik untuk diri maupun orang lain. Mindfulness Kesadaran ini muncul ketika seseorang memberikan perhatian secara sengaja pada kondisi saat sekarang dilandasi rasa ingin tahu ( tanpa menghakimi). Mindfulness bisa dijadikan dasar dalam penguatan lima kompetensi sosial dan emosional sehingga menjadi sebuah kekuatan besar dalam mempraktikan pembelajaran sosial emosional yang baik. Penerapan Mindfulness dapat dilakukan dengan cara STOP yaitu : Stop ( berhenti sejenak) Take a breath (ambil nafas dalam) Observe ( amati sensasi pada tubuh, perasaan, pikiran dan lingkungan) Proceed (selesai dan lanjutkan ) Well-Being ( kesejahteraan psikologis) Merupakan sebuah kondisi pada seseorang yang memiliki sikap positif terhadap diri dan orang lain, dapat mengatur tingkahlaku dan keputusannya sendiri sehingga bisa memenuhi kebutuhannya dengan menciptakan dan mengelola lingkungan dengan baik serta memiliki tujuan hidup lebih bermakna serta berusaha bereksplorasi dalam mengembangkan dirinya sendiri maupun orang lain. Berkaitan dengan no 2, perubahan yang akan saya terapkan di kelas dan sekolah: bagi murid-murid: mendorong peningkatan kompetensi sosial dan emosional murid yang diimplementasikan dalam pembelajaran dengan mengintegrasikan melalui pembelajaran di dalam kelas untuk menumbuhkembangkan lima kompetensi sosial dan emosional maupun dalam kegiatan di luar kelas dalam bentuk ekstrakurikuler. bagi rekan sejawat: Perubahan yang akan saya terapkan di sekolah terkait dengan rekan sejawat adalah saya berbagi pengetahuan dengan rekan sejawat sehingga dengan pemikiran dan pemahaman yang sama mampu merencanakan dan melaksanakan pembelajaran Sosial Emosional serta selalu mengedepankan kolaborasi diantara sesama rekan sejawat.

Senin, 14 Agustus 2023

Aksi Nyata Modul 1.4 Membangun Budaya Positif Di Sekolah

 Sekolah sebagai tempat guru mengabdi tak ubahnya seperti sawah bagi petani dalam bercocok tanam. Petani merawat dan membesarkan tumbuhan padi sedangkan guru merawat dan membesarkan murid di sekolah. Keduanya sama-sama memiliki tujuan untuk menjaga, dan memaksimalkan tumbuh kembang padi dan juga murid. Upaya yang meraka lakukan adalah memaksimalkan kodrat tumbuh kembang padi serta murid agar berkembang sesuai kodratnya.

Upaya yang dilakukan oleh guru di sekolah tersebut pada dasarnya dilakukan agar guru mampu membantu tumbuh kembang muridagar sesuai dengan potensi dirinya sendiri. Selain itu, untuk mencapai tujuan tersebut guru harus mengupayakan sekolah menjadi lingkungan yang mendukung terhadap tumbuh kembangnya budaya positif murid. Karena peran yang paling utama bagi seorang guru adalah membangun budaya positif di sekolah untuk menciptakan lingkungan yang mendorong tumbuhnya karakter baik murid.

1. Disiplin Positif dan Nilai-Nilai Kebajikan Universal

Dalam membangun budaya positif di sekolah, salah satu hal yang harus dilihat kembali adalah bentuk penerapan disiplin yang selama ini dijalankan di sekolah. Apakah mendorong penerapan disiplin positif melalui motivasi intrinsik ataukah ekstrinsik? Nilai-nilai kebajikan apa yang dipegang oleh seluruh warga sekolah sehingga mampu menerapkan disiplin positif dalam kehidupan di sekolah.

2. Teori Motivasi, Hukuman, Penghargaan, dan Restitusi

Disiplin positif merupakan bagian utama dari terwujudnya budaya positif. Dalam mempelajarinya, murid tidak perlu menerima hukuman dari guru sebab untuk menumbuhkan motivasi internal yang lebih kuat, guru harus mendorong tumbuhnya disiplin diri murid sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu kepada kebajikan universal.

3. Keyakinan Kelas

Keyakinan perannya lebih kuat dalam menggerakkan seseorang dibandingkan dengan peraturan. Hal ini karena keyakinan lebih terdorong oleh motivasi intrinsik dibanding dengan peraturan yang mendorong motivasi ekstrinsik. Agar budaya positif itu bisa tumbuh dan berkembang, perlu diciptakan dan disepakati keyakinan atau prinsip dasar bersama diantara para warga kelas.

4. 5 Kebutuhan Dasar Manusia

Pada dasarnya apapun perilaku murid pasti memiliki tujuan. Hal ini karena umumnya perilaku murid dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar mereka yaitu kebutuhan bertahan hidup, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan pengakuan atas kemampuan, kebutuhan akan pilihan (kebebasan) dan kebutuhan untuk merasa senang. Ketika seorang guru memahami lima kebutuhan dasar manusia maka pada gilirannya guru tersebut tidak akan semata-mata melihat perilaku murid yang muncul dipermukaan saja tetapi akan melihat hal yang lebih essensial terkait dengan kebutuhan dasarnya sebagai manusia.

5. Restitusi: Lima Posisi Kontrol Guru

Lima Posisi kontrol yang bisa diterapkan guru antara lain sebagai penghukum, pembuat orang merasa bersalah, teman, pemantau dan manajer. Tujuan akhir dari lima posisi kontrol guru tersebut adalah pencapaian posisi manajer, dimana pada posisi ini murid bisa menjadi pribadi yang mandiri, merdeka dan bertanggung jawab atas segala perilaku dan sikapnya sehingga menciptakan lingkungan yang positif, aman dan nyaman.

6. Restitusi: Segi Tiga Restitusi

Restitusi merupakan proses kolaboratif yang mengajarkan murid mencari solusi dari masalah mereka Restitusi bisa membantu murid memiliki tujuan disiplin positif, dan memulihkan dirinya setelah berbuat salah melalui tahapan segi tiga restitusi yaitu antara lain: menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan kelas.